P3SEKPI Publication Info

Publication of our researchers will contribute to the world.

Reduced Impact Logging – Carbon (RIL-C): Kunci Sukses Pengelolaan Hutan Lestari Dan Penurunan Emisi

  • View : 79
  • Download :

Pembalakan berdampak rendah (Reduced Impact Logging-RIL) adalah praktik pembalakan yang dilakukan oleh pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA) untuk mengurangi kerusakan hutan termasuk emisi. Kegiatan utamanya meliputi penebangan, penyaradan dengan menggunakan winching penumpukan dan pengangkutan log, yang dilakukan secara efektif dan
efisien sehingga RILdapat dijadikan indikator Sistem Pengelolaan Hutan Lestari (SPHL). RILdan SPHL merupakan kegiatan yang potensial untuk mendapatkan insentif jika dilaksanakan dalam kerangka REDD+ (reduced emission from deforestation and forest degradation). Beberapa perusahaan yang telah menerapkan RIL secara berkesinambungan dalam aktivitas pengelolaan hutannya telah mendapatkan keuntungan berupa: (1) peningkatan efisiensi pembalakan, (2) penurunan tingkat kerusakan tinggal setelah pemanenan, (3) kontribusi terhadap penurunan emisi lokal dan nasional, (4) penerimaan pasar terhadap produk kayu menjadi lebih luas, serta (5) peluang kerjasama dengan non government organizations (NGOs) baik nasional maupun internasional. Kontribusi terhadap penurunan emisi dapat dimaksimalkan apabila praktek-praktek terbaik lebih ditekankan dalam penerapan RIL, antara lain: mengurangi lebar koridor jalan angkutan log dan tidak menebang pohon gerowong. Penerapan RIL yang disertai dengan upaya maksimum untuk mengurangi emisi dari kegiatan pembalakan serta metode untuk mengkuantifikasi penurunan emisi karbon dari praktek pembalakan terbaik ini disebut sebagai Reduced
Impact Logging – Carbon (RIL-C). Meskipun demikiam, perusahaan yang menerapkan praktik RIL/RILC masih sangat rendah karena beberapa hal, salah satunya adalah sebagian besar perusahaan masih
meragukan tingkat efisiensi dan efektivitas pelaksanaan RIL-C. Berdasarkan hal tersebut diperlukan langkah-langkah yang harus dilakukan baik oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK), Asosiasi Pengusahaan Hutan Indonesia (APHI), pemegang IUPHHK dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan praktik penerapann RIL-C di lapangan, meliputi: (1) sosialisasi praktek RIL-C dan peningkatan kapasitas SDM perusahaan IUPHHK-HA, (2) mengatur mekanisme insentif dan benefit sharing kredit karbon bagi perusahaan yang menerapkan RIL-C, (3) menetapkan RIL-C dalam sistem silvikultur hutan alam, dan (4) menyusun payung hukum (peraturan) penerapan RIL-C di konsesi IUPHHK HA. Kalimantan Timur sebagai provinsi percontohan untuk pelaksanaan REDD+ diharapkan dapat menjadi model penerapan kebijakan RIL/RIL-C di tingkat lokal.
Implikasi kebijakan penerapan RIL-C di Kalimantan Timur adalah: (1) mendukung program Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Timur terkait dengan pembangunan rendah emisi (Green Kaltim), dan (2)
menjadi model bagi provinsi lain sehingga dapat menjadi cikal bakal kesepakatan nasional dalam mencapai target penurunan emisi sebagaimana yang tertuang dalam Naonally Determined Contribuon
(NDC).

Penulis : Dr. Ir Subarudi M.Wood.Sc
Anggota :
Iis Alviya S.P., M.S.E.
Fentie Jullianti Salaka M.Si.
Mimi Salminah S.Hut., M.For.Sc.
Penulis lain :

More Info

  • Type : Policy Brief
  • ISBN :
  • Publisher : P3SEKPI
  • Year : 2018

Copyrights © 2020 P3SEKPI. All Rights Reserved