P3SEKPI - Others Collection


No Title Researcher Info File
1 Formulasi Penilaian Pemulihan Tegakan Hutan Alam Setelah Penebangan

Abstract :

Hutan alam produksi bekas tebangan mempunyai kondisi karakteristik yang beragam baik secara potensi tegakan sisa, komposisi floristik hingga kondisi tapak atau habitat lokal.  Tujuan pengelolaan hutan alam produksi lestari adalah meningkatkan produktivitas tegakan hutan alam setelah penebangan, dan hal ini menjadi kewajiban dan kebutuhan bagi para pengelolanya.

Di sisi lain, teknis penilaian kondisi dasar hutan alam setelah penebangan masih bersifat parsial dan belum tersedianya metode penilaian pemulihan hutan yang aplikatif sebagai dasar menentukan tindakan silvikultur yang tepat pada ragam kondisi hutan alam setelah penebangan, sehingga hal ini  menjadi kendala dalam pengelolaan hutan. Studi yang dilakukan pada permanen plot yang secara periodik dan jangka panjang pada ragam kondisi hutan bekas tebangan menunjukkan bahwa penilaian pemulihan tegakan hutan alam setelah penebangan dapat disusun dalam bentuk formulasi Keragaan Karakteristik Biometrik (KKB).  Formulasi ini mampu dipergunakan sebagai perangkat penilaian pemulihan hutan alam produksi. Pendekatan ini berlandaskan pada dua aspek utama penilaian pemulihan tegakan hutan alam produksi yaitu status produktivitas dan ekologi konservasinya. Studi ini mampu mengidentifikasi parameter penting penilaian pemulihan tegakan yang berpeluang dipergunakan sebagai tools atau perangkat pendukung (terutama PerDirjen PHPL No: P.14/PHPL/Set/4/2016). Penilaian status pemulihan tegakan hutan diperlukan sebelum menyusun rencana pengelolaan hutan alam produksi yang sesuai dan tepat.

Researcher :

Farida Herry Susanty


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2020
Download (hits : x)
2 Implementasi Transfer Fiskal Berbasis Ekologi: Dukungan Bagi Pemerintah Daerah untuk Perlindungan Lingkungan

Abstract :

Perlindungan dan konservasi sumber daya hutan (SDH) dapat menciptakan kesenjangan fiskal yang tinggi bagi daerah yang melakukannya. Kesenjangan fiskal tersebut perlu direduksi dengan kebijakan insentif fiskal bagi daerah yang mampu mempertahankan tutupan hutannya agar laju pertumbuhan ekonominya tetap terjaga.

Skema transfer anggaran dari pusat ke daerah yang saat ini berlaku adalah: Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Insentif Daerah (DID), Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Desa, dan Dana Otonomi Khusus (Otsus).   Skema tersebut dapat dioptimalkan agar menjadi insentif bagi daerah yang memiliki perhatian pada aktivitas perlindungan dan konservasi lingkungan dan SDH. Namun, skema tersebut sering kontra-produktif dengan tujuan ekologis. Oleh karena itu, skema transfer fiskal ke daerah perlu dimodifikasi, dengan menambahkan indikator ekologi sebagai salah satu persyaratannya (atau transfer fiskal berbasis ekologis, ecological fiscal transfer/EFT).

Researcher :
Dr Fitri Nurfatriani S.Hut, M.Si
Yanto Rochmayanto S.Hut, M.Si
Mimi Salminah S.Hut., M.For.Sc.
Galih Kartika Sari S.Hut. MAP.
Dewi Ratna Kurnia Sari S.Hut, M.Si.

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2020
Download (hits : x)
3 Peningkatan Produktivitas Hutan Alam Tidak Produktif dengan Penerapan TPTJ-Silin

Abstract :

Kondisi hutan alam yang semakin rusak mencerminkan sistem silvikultur di hutan alam belum sepenuhnya dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian hutan. Pengelola hutan alam masih fokus pada eksploitasi kayu, sedangkan tugas untuk merehabilitasi dan memulihkan hutannya kurang serius. Upaya peningkatan produktivitas hutan alam telah dilakukan dengan penerapan TPTJ-Silin, namun pertumbuhan tanaman tidak maksimal karena dilakukan di kondisi areal bekas tebangan (log over area, LOA) yang masih “baik dan sedang”.

Researcher :

Darwo


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2020
Download (hits : 1x)
4 Revitalisasi Kayu Rakyat: Bagaimana Menghubungkan Petani Kayu dengan Sektor Industri dan Pemerintah dalam Mewujudkan Kemitraan Strategis yang Kokoh dan Berkelanjutan

Abstract :

Pengembangan kayu komersial berbasis masyarakat telah menjadi salah satu program prioritas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Perhutanan Sosial (PS), melalui ragam skema seperti Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa, Hutan Adat, dan Kemitraan, merupakan kebijakan payung yang diharapkan dapat mendorong dan mempercepat pengembangan kayu komersial berbasis masyarakat atau Community-Based Commercial Forestry (CBCF). Hingga Juni 2019, realisasi PS telah mencapai 3,15 juta ha (22,76% dari target seluas 13,84 juta ha), terdiri dari 707 ribu KK dengan 5.794 unit SK Izin/Hak (Dirjen PSKL, 2019). Salah satu tantangan pengembangan CBCF di lapangan adalah belum terkoneksinya sektor industri kayu dengan petani penyedia bahan baku. Tantangan lainnya adalah banyaknya regulasi yang menghambat perkembangan PS, terbatasnya pendanaan, dan belum memadainya insentif bagi industri maupun petani kayu. Untuk memperbaiki kinerja sektor ini, dalam rangka mendukung peningkatan pendapatan petani, beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah antara lain: (1) Pemerintah pusat dan daerah pro-aktif membangun konektivitas langsung yang produktif antara industri kayu dengan petani; (2) Membuka ruang akses petani terhadap dana desa dan Badan Layanan Umum (BLU) melalui penyederhanaan prosedur dan persyaratan pengajuan; (3) Mendorong pembangunan industri on-farm skala kecil yang dapat dikelola oleh petani dan relokasi industri kayu ke lokasi yang lebih dekat dengan lahan penanaman petani yang berada pada satu lanskap sehingga mengurangi biaya transportasi kayu; (4) Penyederhanaan regulasi dan pemangkasan panjangnya proses perizinan, khususnya sektor industri kayu; dan (5) Menciptakan mekanisme insentif bagi petani dan industri kayu skala kecil dan menengah.

Researcher :
Drs Lukas Rumboko Wibowo M.Sc. Phd
Dewi Ratna Kurnia Sari S.Hut, M.Si.

Kristiana Tri Wahyudiyati, Nur Hayati, Ahmad Rizal Hak Bisjoe


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2020
Download (hits : x)
5 Implementasi Circular Economic dalam Strategi Kebijakan Pengelolaan Cendana (Santalum album L.) Secara Berkelanjutan

Abstract :

Cendana (Santalum album L.) merupakan salah satu spesies hasil hutan endemik Indonesia yang bernilai ekonomi tinggi mencapai Rp900.000,00/kg untuk kayu terasnya serta sangat potensial untuk dikembangkan. Cendana bernilai ekonomi tinggi karena memiliki aroma wangi yang khas pada bagian batang dan akarnya. Strategi kebijakan dalam pengelolaan cendana sangat diperlukan untuk mempertahankan keberlanjutan populasinya, salah satunya melalui diversifikasi produk guna mengurangi limbah. Desain penggunaan cendana dengan konsep circular economic berusaha memanfaatkan seluruh bagian kayu untuk berbagai macam tujuan penggunaan. Optimalisasi penggunaan tersebut didasarkan pada karakteristik fisis kayu maupun karakteristik fisis dan kimia minyak atsiri cendana. Rekomendasi kebijakan circular economic untuk pengelolaan cendana yang berkelanjutan guna optimalisasi pemanfaatan kayunya adalah dengan melakukan seleksi pemanenan pohon masak tebang dengan diameter minimal 15 cm dan proporsi teras minimal 48.53% dengan desain penggunaan utama untuk minyak atsiri dan kerajinan kayu.

Researcher :

Deden Nurochman


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2020
Download (hits : x)
6 Peran Instrumen Mitigasi Perubahan Iklim Berbasis Pasar dan Pencapaian Target NDC

Abstract :

Peran swasta dalam penurunan emisi dan pencapaian target NDC dapat ditingkatkan melalui penerapan instrumen berbasis pasar di dalam negeri sebagai alat bantu kebijakan rendah karbon.

Researcher :
Dr. Raden Deden Djaenudin S.Si., M.Si.

Sukandar, Donny Wicaksono, Andi Samyanugraha, Mohamad Iqbal, Ridwan Pambudi, Aldi Aufar, Debi Nathalia


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2019
Download (hits : 7x)
7 Pembelajaran dari Penerapan Instrumen Berbasis Pasar Sektor Energi di Indonesia

Abstract :

Analisis berbagai instrumen berbasis pasar (IBP) mengungkapkan bahwa penggunaan harga karbon dan mekanisme pasar karbon menghadirkan pendekatan biaya yang paling efisien dan efek?f dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK). Mekanisme kredit karbon adalah salah satu jenis IBP yang telah pernah diikuti Indonesia melalui Clean Development Mechanism dan Joint Credi?ng Mechanism.

Researcher :
Mohamad Iqbal S.Hut., M.Si.

Deden Djaenudin, Sukandar, Donny Wicaksono, Andi Samyanugraha, Ridwan Pambudi, Aldi Aufar, Debi Nathalia


Publisher : 2019
Type : Policy Brief
Year : 2019
Download (hits : 6x)
8 Kesiapan Data Emisi untuk Instrumen Mitigasi Berbasis Pasar

Abstract :

Untuk memenuhi komitmen penurunan emisi gas rumah kaca sebagaimana dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia dalam Persetujan Paris, diperlukan instrumen kebijakan inovatif yang dapat membatasi dan/atau mengurangi emisi GRK sekaligus dapat memobilisasi investasi rendah emisi secara op?mal dan cost-effective. Instrumen berbasis pasar seperti skema perdagangan karbon dapat menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan upaya mi?gasi perubahan iklim dengan memberikan nilai ekonomis bagi setiap unit penurunan emisi.

Researcher :

Ridwan Pambudi, Aldi Aufar, Deden Djaenudin, Sukandar, Donny Wicaksono, Andi Samyanugraha, Mohamad Iqbal, Debi Nathalia


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2019
Download (hits : 6x)
9 Status Kesiapan Kebijakan untuk Penerapan Instrumen Mitigasi Berbasis Pasar di Indonesia

Abstract :

Indonesia telah mengembangkan sejumlah besar kebijakan dan peraturan yang dapat mendukung pelaksanaan instrumen mi?gasi perubahan iklim berbasis pasar atau biasa disebut "pasar karbon". Untuk menyikapi lebih lanjut opsi instrumen kebijakan ini, dapat dilakukan beberapa hal.

Researcher :

Debi Nathalia, Deden Djaenudin, Sukandar, Donny Wicaksono, Andi Samyanugraha, Mohamad Iqbal, Ridwan Pambudi, Aldi Aufar


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2019
Download (hits : 5x)
10 Strategi Implementasi Instrumen Mitigasi Berbasis Pasar Berdasarkan Potensi dan Biaya Mitigasi

Abstract :

Dalam menentukan strategi penerapan instrumen pasar karbon atau carbon value yang berdasarkan biaya pengurangan emisi, Pemerintah dapat menggunakan kurva biaya pengurangan emisi (marginal abatement cost curve atau MACC).

Researcher :

Andi Samyanugraha, Deden Djaenudin, Sukandar, Donny Wicaksono, Mohamad Iqbal, Ridwan Pambudi, Aldi Aufar, Debi Nathalia


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2019
Download (hits : 3x)
11 Forest Amnesty: Masihkah Diperlukan?

Abstract :

Forest amnesty sebagai wacana ketika dilakukan harus berbeda dengan tax amnesty karena bukan hanya persoalan penilaian fisik (tangible goods), tetapi juga harus dinilai fungsi dari KH tersebut (intangible benefits). Namun penerapan forest amnesty tidak akan bermanfaat manakala denda terhadap okupasi KH non prosedural relatif rendah (Rp27 juta/ha) dibandingkan dengan perolehan HGU resmi sebesar Rp90-100 juta/ha. Jika ingin
diterapkan
forest amnesty perlu menggunakan nilai total dari KH sebesar Rp161 juta/ha.

Researcher :
Dr. Ir Subarudi M.Wood.Sc

Lukas Rumboko Wibowo, Yanto Rochmayanto, Nunung Parlinah dan Dewi Ratna Kurniasari


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2019
Download (hits : 5x)
12 Konstruksi Manajemen Perhutanan Sosial: Studi Kasus di Kesatuan Pengelolaan Hutan Walanae Provinsi Sulawesi Selatan

Abstract :

Kebijakan perhutanan sosial (PS) sebagai solusi dalam tata kelola kehutanan di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan kondisi hutan. Untuk mewujudkan keberhasilan program PS, maka konstruksi manajemen PS harus memper?mbangkan kondisi landscape, lifescape, dan kebijakan/ kelembagaan, yang diwujudkan dalam bentuk kelola kawasan, kelola kelembagaan, dan kelola usaha.

Researcher :

Tajuddin, S.Hut., M.Sc.


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2019
Download (hits : 3x)
13 Kebijakan Pengendalian Penyakit Tanaman untuk Menyelamatkan Hutan Rakyat Sengon

Abstract :

Terjadinya ledakan penyakit pada sengon menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan dan dapat berdampak tidak hanya pada perekonomian masyarakat namun juga terhadap industri kayu nasional. Oleh karena itu, perlu dirumuskan suatu kebijakan yangmendukung strategi pengendalian penyakit tanaman yang efektif.

Researcher :

Neo Endra Lelana


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2019
Download (hits : 4x)
14 Kebijakan Pengolahan Limbah Domestik Non Kakus untuk Mendukung Pencapaian Target 100 Persen Akses Sanitasi

Abstract :

Penerapan teknologi IPAL Sanita harus berbasis partisipasi masyarakat untuk mendukung keberlanjutannya, antara lain gaya hidup penduduk dalam memilah limbah dan penerapan anggaran operasional yang tepat.

Researcher :

Melania H. Aryantie, Sri U. Purwati, Rositayanti Hadisoebroto, Oktaria D. Pitalokasari, Uki Nugroho


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2019
Download (hits : 6x)
15 Terobosan Kebijakan PUHH Kayu Energi: Sangat Diperlukan

Abstract :

Energi biomassa akan menjadi isu yang terus mengemuka dan akan menjadi sumber energi utama di dunia, termasuk di Indonesia, ketika cadangan energi fosil semakin menipis. Cadangan minyak bumi Indonesia saat ini ?nggal 3,6 miliar barel, gas bumi ?nggal 100,3 TSCF, dan batu bara pun semakin menipis menjadi 7,2 miliar
ton. Minyak bumi diperkirakan akan habis 13 tahun lagi.

Researcher :
Dr. Ir Subarudi M.Wood.Sc

Yanto Rochmayanto, Lukas Rumboko Wibowo, Sulistya Ekawati, Mirna Aulia Probadi, Fentie Salaka, dan Dewi Ratna Kurniasari


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2019
Download (hits : 5x)
16 Pemulihan Vegetasi Alami Hutan Rawa Gambut Pascadegradasi. Studi di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah

Abstract :

Hutan rawa gambut tropis merupakan ekosistem yang penting di Indonesia, luasnya meliputi 50% luas gambut tropis dunia (Page et al., 2011) atau sekitar 14,9 juta hektar (Wahyunto et al., 2014). Ekosistem ini memiliki fungsi penting yang berkontribusi dalam pemanasan global; sumber plasma nutfah; dan sebagai sumber mata pencaharian masyarakat (Rieley, 2016). Hutan rawa gambut telah terpapar berbagai bentuk gangguan baik kegiatan pengelolaan maupun aktivitas lainnya yang mengakibatkan kerusakan langsung pada komunitas pembentuk ekosistem maupun kerusakan rezim hidrologisnya sehingga menyebabkan degradasi hutan dan lahan gambut. Degradasi merupakan suatu penurunan kualitas struktur dan fungsi hutan atau lahan. Usaha perbaikan telah banyak dilakukan, salah satunya usaha pemulihan vegetasi baik pada skala penelitian maupun pengembangan dan telah didukung dengan berbagai kebijakan pemerintah tetapi belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Kebijakan yang terkait dengan pemulihan vegetasi umumnya melakukan pendekatan berdasarkan permasalahan praktis di lapangan, misalkan pemulihan vegetasi dilakukan melalui penanaman tetapi apa dan bagaimana penanaman yang harus dilakukan belum sepenuhnya diketahui dan seharusnya pemulihan vegetasi tidak selalu harus melalui usaha penanaman saja. Penelitian disertasi ini mencoba untuk menawarkan suatu pendekatan permasalahan secara ilmiah berdasarkan sistem alam yang efisien yaitu suksesi. Berdasarkan hasil penelitian ini direkomendasikan beberapa hal dalam usaha pemulihan vegetasi hutan rawa gambut pascadegradasi yaitu 1) Perlunya penetapan kriteria dan indikator dalam pemulihan vegetasi hutan rawa gambut; 2) Perlunya alternatif tindakan dalam pemulihan vegetasi hutan rawa gambut selain usaha penanaman kembali; dan 3) Apabila diperlukan penanaman maka harus dilakukan pemilihan jenis yang tepat sesuai kondisi hutan rawa gambut pascadegradasi.

Researcher :

Dony Rachmanadi


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 49x)
17 Perhutanan Sosial, Kemiskinan dan Pendidikan

Abstract :

Kemiskinan merupakan akar masalah dari kegiatan Perhutanan Sosial. Kondisi miskin mengakibatkan masyarakat membutuhkan tambahan lahan untuk bercocok tanam dan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Kebutuhan tersebut mendorong masyarakat sekitar hutan untuk memanfaatkan lahan kosong di sekitar tempat tinggal mereka, walaupun mereka menyadari bahwa lahan tersebut adalah lahan hutan negara.

Kemiskinan masyarakat sekitar hutan, jika tidak tertanggulangi akan mengakibatkan kerusakan hutan dalam skala kecil yang akan meluas menjadi lebih besar. Perhutanan Sosial menjadi salah satu solusi dari upaya penanggulangan kemiskinan masyarakat sekitar hutan. Masyarakat sekitar hutan digerakkan dalam suatu organisasi/kelompok pengelola hutan negara, didampingi dan diatur dalam beberapa  skema dalam memanfaatkan lahan hutan negara, yaitu Hutan Desa (HD), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Kemasyarakan (HKm), Hutan Adat dan Kemitraan Kehutanan.

Program Perhutanan Sosial secara luas sudah dilaksanakan di hutan seluruh dunia dan Indonesia, dan memberikan kontribusi yang berarti untuk petani peserta program. Namun demikian, tak sedikit laporan tentang kegiatan Perhutanan Sosial yang memaparkan tentang kecilnya nilai kontribusi Perhutanan Sosial pada pendapatan petani. Tak terkecuali dengan kegiatan Perhutanan Sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Petani belum dapat mengoptimalkan kegiatan Perhutanan Sosial karena berbagai keterbatasan antara lain pendidikan yang rendah, terbatasnya areal lahan garapan, belum optimalnya kelembagaan lokal. Peningkatan kontribusi Perhutanan Sosial dapat dilakukan melalui inovasi strategi implementasi Perhutanan Sosial, dengan mengembangkan kapasitas dan kapabilitas petani melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh para pihak terkait.

Researcher :

Indah Novita Dewi


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 74x)
18 Teknik Penyadapan Pinus dan Jelutung yang Ramah Lingkungan

Abstract :

Permintaan produksi getah pinus dan jelutung yang semakin meningkat mendorong dilakukannya peningkatan produksi getah pinus dan jelutung. Salah satu teknik pemanenan yang diterapkan untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan dengan jalan mengkombinasikan cara penyadapan dan penggunaan stimulan organik cuka kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian stimulant organik cuka kayu pada penyadapan pinus dengan sistem quare dapat meningkatkan produksi getah pinus 14,4%. Peningkatan produksi getah pinus tersebut masih di bawah hasil getah yang menggunakan stimulant berbahan dasar H2SO4. Uji coba penggunaan stimulan cuka kayu pada penyadapan jelutung yang dikombinasikan dengan teknik penyadapan menunjukkan bahwa teknik penyadapan berbentuk V menghasilkan getah lebih banyak dibandingkan dengan ½spiral. Penggunaan stimulan cuka kayu menghasilkan getah lebih banyak dibandingkan kontrol (tanpa stimulan). Rata-rata getah jelutung yang dihasilkan jika menggunakan stimulan cuka kayu 20,94 gram sedangkan kontrol 11,03 gram. Penggunaan stimulant organik cuka kayu murah dan mudah diperoleh karena bisa diproduksi sendiri dari sisa-sisa/limbah pohon, lebih aman digunakan baik terhadap pohon maupun pekerja sehingga menjamin sustainabilitas dan ramah lingkungan (green product). Produk getah berlabel green product pada umumnya digunakan untuk menghasilkan produk food grade. Penggunaan stimulan hayati dan non hayati sebaiknya diterapkan secara proporsional. Penggunaan stimulant hayati disarankan untuk menjamin kelestarian meskipun dalam jangka pendek produksi getah yang dihasilkan lebih rendah namun dapat memenuhi persyaratan green product dan ecolabelling. Sementara itu stimulan non hayati digunakan untuk memenuhi persyaratan produksi tinggi sesuai pencapaian target (pencapaian jangka waktu pendek).

Researcher :

Sukadaryati, Dulsalam, & Yuniawati


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 41x)
19 Optimalisasi Dana Sawit dalam Mendorong Praktik-Praktik Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat yang Berkelanjutan

Abstract :

Kelapa sawit adalah salah satu komoditas sumber penghasil devisa negara. Di sisi lain sektor kelapa sawit juga menghadapi isu lingkungan sebagai salah satu penyebab deforestasi karena masih adanya kebun sawit baik skala besar maupun skala kecil yang dimiliki masyarakat berada di kawasan hutan. Kondisi ini menyebabkan petani sawit rakyat sulit mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan karena tidak dapat memenuhi syarat legalitas lahan. Sementara petani sawit rakyat tidak memiliki kecukupan dana untuk melaksanakan praktik pengelolaan sawit lestari seperti penyiapan lahan tanpa bakar, penyediaan bibit berkualitas dan pupuk yang bermuara pada rendahnya produktivitas lahan petani sawit swadaya. Untuk mengatasi isu tersebut pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki  tata kelola sawit di Indonesia melalui perbaikan aspek regulasi berupa penguatan peraturan standar-standar pengelolaan sawit lestari Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO). Bentuk kebijakan pemerintah lainnya adalah dikeluarkannya kebijakan pungutan dana perkebunan sawit atas kegiatan ekspor sawit dan/atau produk turunannya dengan berlandaskan pada amanat Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan dan Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015 jo Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2016. 

Tujuan utama penggunaan dana perkebunan dalam UU perkebunan adalah untuk kegiatan peremajaan, penelitian, pengembangan sumber daya manusia (SDM), promosi dan sarana prasarana.  Namun dalam realisasinya penggunaan dana sawit sebagian besar (89%) digunakan sebagai subsidi pengembangan biodiesel sebagai upaya menstabilkan harga Crude Palm Oil/CPO yang jatuh akibat over supply sehingga dapat diserap oleh pasar biodiesel. Instrumen dana sawit dapat dijadikan insentif bagi upaya pengurangan deforestasi melalui pendanaan untuk program intensifikasi kebun yang meliputi (a) Optimalisasi implementasi peremajaan kebun dari dana sawit untuk peremajaan sawit rakyat, legalisasi lahan, sertifikasi ISPO, dan penyediaan database petani swadaya, melalui i) pendampingan pekebun secara terstruktur dan berkualitas, ii) penguatan peran dinas perkebunan melalui fasilitasi dan penganggaran berdasarkan kinerja di tingkat tapak disertai pengawasannya, iii) alokasi dana sawit untuk subsidi bunga pinjaman bagi petani pada masa grace period, iv) bantuan permodalan produktif bagi petani pada masa grass period, v) peningkatan besaran bantuan biaya peremajaan sebesar 60% dari standar biaya peremajaan yang ditetapkan pemerintah; (b) Untuk mengatasi harga CPO yang turun akibat over supply maka perlu diatur dari sisi supply yaitu dengan kebijakan moratorium pemberian izin terhadap pengusahaan kebun kelapa sawit; (c) Komite pengarah Badan Layanan Umum (BLU) Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) harus mengembalikan fungsi penggunaan dana sawit sesuai dengan Undang-Undang perkebunan, untuk itu: i) komite pengarah harus membuat rencana alokasi dana sawit untuk kepentingan pembangunan berkelanjutan dengan mengidentifikasi lahan prioritas perkebunan swadaya yang akan dibantu peremajaannya dan dipublikasikan secara periodik, ii) harus ada sistem keterbukaan informasi publik dalam pengalokasian dana sawit melalui sistem informasi yang transparan terkait pengalokasian dana sawit, iii) memastikan perusahaan penerima dana sawit untuk pengembangan biodiesel memenuhi prinsip berkelanjutan, iv) penguatan fungsi dewan pengawas terhadap BPDPKS yang terdiri atas multi stakeholder.

Researcher :
Dr Fitri Nurfatriani S.Hut, M.Si

Ramawati, Galih Kartika Sari, dan Heru Komarudin


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 34x)
20 Penyelesaian Tenurial Perkebunan Kelapa Sawit di Kawasan Hutan

Abstract :

Pasar yang berkembang pesat untuk biofuel dan minyak nabati, terutama di China, India, Eropa Timur, dan Timur Tengah serta Amerika dan di negara-negara produsen telah menarik investasi besar di Asia Tenggara, Afrika dan Amerika Latin. Investasi skala besar tersebut mengakibatkan semakin meningkatnya kontestasi lahan untuk pengembangan perkebunan sawit. Akibatnya, seringkali para petani tergerak untuk melawan niat dan kepentingan korporasi dan institusi pemerintah. Fakta menunjukkan terjadi proses transformasi penggunaan lahan dan kawasan ini secara bertahap yang terintegrasi ke dalam pasar global. Policy brief ini mencoba menjelaskan bagaimana beragam aktor dan institusi pemerintahan, memfasilitasi upaya-upaya penyelesaian kompleksitas tenurial di tingkat kebijakan dan lapangan.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan (2017) tercatat ada 2,5 juta ha perkebunan sawit di kawasan hutan. Dari jumlah itu 1,7 juta ha diindikasi perkebunan rakyat dan 800,000 ha perusahaan. Sementara Direktorat Jenderal Planologi mengindikasikan perkebunan sawit di kawasan hutan seluas 2,319, 148 ha. Membiarkan permasalahan ini berlarut-larut, tanpa ada keberanian mengambil pilihan kebijakan, tentunya bisa berdampak luar biasa, bagi pemerintah, swasta maupun masyarakat lokal. Untuk menyelesaikan persoalan tenurial sawit tentunya tidak sederhana mengingat kompleksitas permasalahan yang ada. Tanpa penyelesaian yang komprehensif maka kekawatiran akan adanya’’transfer of hate’’ yang memantik konflik sosial seperti yang terjadi secara periodik di Kalimantan Barat, bisa terulang kembali. Salah satu penyebabnya adalah terjadinya hegemoni kontrol atas sumber daya hutan dan perkebunan oleh korporasi.

Saat ini diperlukan beberapa solusi alternatif terobosan agar persoalan sawit yang berada di kawasan hutan tidak berlarut-larut. Mengharapkan solusi permanen barangkali sesuatu yang utopis, namun terobosan-terobosan baru tetap diperlukan.

Researcher :
Drs Lukas Rumboko Wibowo M.Sc. Phd

Ismatul Hakim, Heru Komarudin, dan Dewi Ratna Kurniasari


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 64x)
21 Regulasi Perhutanan Sosial di Lahan Gambut: Antara Political Will dan Realita

Abstract :

Perhutanan Sosial (PS) saat ini, dianggap oleh semua pihak sebagai skema legal termuktahir sejak pemerintah, sebagai regulator, beralih fokus dari pengaturan pengelolaan lahan dan hutan yang mengutamakan supremasi hasil kayu kepada pendekatan kesejateraan masyarakat mulai dua dekade lalu. PS seolah menjadi penyedia titik temu antara tekanan produksi, konservasi dan pemuliaan peradaban manusia. Seiring eforia PS, advokasi civil society organization (CSO) secara masif menyuarakan akses masyarakat ke lahan gambut melalui skema PS perlu diperluas seperti halnya pada lahan mineral, yang bertujuan untuk mengakomodir emansipasi akses kepada masyarakat tempatan di lahan gambut. Sementara itu, sebagian besar ekosistem gambut (yang menjadi alternatif sumber daya dan ruang produksi skala besar (korporasi) sejak tahun 70an) kerusakannya dianggap sudah mencapai pada ambang yang mengkhawatirkan. Hal tersebut akibat banalitas pasar dimana permintaan nasional dan internasional yang sangat besar terhadap komoditi tertentu yang kebetulan adaptif tumbuh di gambut melalui serangkaian modifikasi lahan. Sementara itu, konstruksi data dan kesimpulan ilmiah pun menyatakan bahwa ekosistem gambut adalah unik di mana ekosistem tersebut mempunyai beberapa fungsi vital untuk kehidupan dan pengelolaannya harus memerhatikan kesatuan hidrologis yang tidak mengenal batas-batas yurisdiksi. Sebelum gambut di tetapkan sebagai ekosistem dengan pengelolaan yang khusus pada Peraturan Pemerintah (PP) 71 Tahun 2014, batas-batas unit pengelolaan lahan dan hutan selama ini bersifat yurisdiksional dan tentunya tidak dapat diterapkan pada rezim pengelolaan gambut yang “ideal”. PS yang pada level praksis berpotensi bias “korporasi” dan bias “pengetahuan lahan mineral” baik pada tekanan aspek produksi dan sifat-sifat pengelolaannya, memerlukan regulasi yang komprehensif, pengawasan yang sistematis dan dukungan sumber daya dari semua pihak terkait.

Researcher :
Handoyo S.Hut., M.Si.

Setiasih Irawanti, Surati, Kuncoro Ariawan, Andri Setiadi, Mulyadin, Dian Charity.


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 52x)
22 Merevisi Pengelompokan Jenis Kayu Perdagangan Indonesia sebagai Dasar Pengenaan Iuran Kehutanan (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 163/Kpts-II/2003)

Abstract :

Keputusan Menteri Kehutanan (Kepmenhut) Nomor 163/Kpts-II/2003 tentang Pengelompokan Jenis Kayu sebagai Dasar Pengenaan Iuran Kehutanan, perlu disempurnakan diantaranya mengenai kriteria keindahan kayu yang kurang jelas, adanya pencampuran antara kayu dengan berat jenis dan keawetan tinggi dikelompokkan bersama jenis kayu dengan kelas rendah, pengelompokan jenis meranti yang terlalu umum, masih mencantumkan jenis kayu yang dilarang tebang, belum mengikuti perubahan taksonomi dan nama botani, dan belum mengakomodir jumlah jenis kayu yang diperdagangkan saat ini. Perlu ditetapkan kriteria pengelompokan jenis kayu perdagangan Indonesia untuk penyempurnaan surat keputusan tersebut. Kriteria penilaian yang direkomendasikan adalah berdasarkan status konservasi, nilai komersialitas (keindahan), dan nilai kualitas kayu (berat jenis dan keawetan). Dengan menggunakan parameter tersebut, pengelompokan kayu perdagangan dapat dilakukan secara efektif menggunakan sistem skoring sehingga semua jenis kayu Indonesia memiliki nilai komersial, dan dapat dipetakan pengelompokannya berdasarkan kriteria yang ada dalam lima kelas, yaitu Kelas Komersial Indah I, Kelas Komersial Indah II, Kelas Komersial I, Kelas Komersial II dan Kelas Komersial III. Sistem yang direkomendasikan memungkinkan untuk dapat menempatkan dan menilai suatu jenis kayu berdasarkan sifat yang dimilikinya sehingga adil untuk kayu, adil untuk negara dan adil untuk para pengusaha.

Researcher :

Djarwanto, Ratih Damayanti, Jamal Balfas, Efrida Basri, Jasni, I.M. Sulastiningsih, Andianto, D. Martono, Gustan Pari, Adang Sopandi, Mardiansyah, Krisdianto


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 42x)
23 Kebijakan Silvopastur di Hutan Gunung Mutis

Abstract :

Hutan Gunung Mutis (HGM) memiliki peran strategis, tidak saja bagi masyarakat lokal tetapi juga bagi masyarakat regional, nasional dan internasional. Untuk masyarakat lokal, HGM telah lama dimanfaatkan sebagai tempat penggembalaan ternak, sumber air, sumber lebah madu, dan sumber kayu bakar. HGM pada tingkat regional berperan dalam penyediaan air bagi daerah di sekitarnya. Air yang berasal dari Gunung Mutis mengalir menuju dua sungai utama yang berada di Pulau Timor yaitu Benain dan Mina. Air tersebut dimanfaatkan untuk pertanian. HGM memiliki ekologi yang khas dengan komposisi vegetasi yang homogen yaitu ampupu (Eucalyptus urophylla). Tipe ekosistem ini tidak ada di daerah lain. Selain itu, HGM terletak pada zona transisi antara Asia dan Australia sehingga pada HGM terdapat flora dan fauna yang berasal dari Asia dan Australia. Keadaan ekologi HGM mengundang perhatian masyarakat internasional (Lenzt et al., 1998).

Masyarakat sekitar hutan telah lama menggunakan memanfaatkan HGM sebagai tempat penggembalaan ternak (Lenzt et al., 1998). Tahun 1974, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 631/Kpts/Um/10/1974 HGM diubah statusnya dari hutan adat menjadi hutan lindung (HL) dan masyarakat tidak diizinkan menggembalakan ternak. Kebijakan tersebut menyebabkan masyarakat sekitar hutan tidak dapat menggembalakan ternak secara legal. Sementara itu kebijakan tersebut tidak dapat diimplementasikan karena mendapat penolakan dari masyarakat sekitar hutan.

Sebagai solusinya masyarakat diberi izin silvopastur dengan terlebih dahulu disusun tata kelolanya, sepertI (1) menetapkan areal untuk silvopastur, (2) memberi izin silvopastur kepada masyarakat lokal, (3) memberi hak dan kewajiban kepada masyarakat, dan (4) memperbaiki teknik silvopastur di HGM.

Researcher :

Rahman Kurniadi


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 42x)
24 Pengembangan Kawasan Perbatasan Berbasis Pengelolaan Hutan Oleh Rakyat di Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Abstract :

Kawasan perbatasan merupakan wilayah strategis yang perlu dikelola secara baik agar tidak terisolir, tingkat kemiskinan tinggi, aksesibilitas rendah, terjadi kerusakan lingkungan dan tidak aman. Pembangunan di kawasan perbatasan membutuhkan kepastian rencana alokasi sumber daya alam, salah satunya adalah hutan. Saat ini pengelolaan hutan belum menjadi arus utama kebijakan dalam pengembangan kawasan perbatasan, padahal masyarakat miskin dan tidak terjangkau pembangunan lebih banyak berada di dalam/sekitar kawasan hutan.  Selain itu kebijakan yang saat ini dilaksanakan bersifat teknis dan top down masih belum kelihatan hasilnya. Masalah-masalah sosial dan ekonomi skala kecil yang langsung seperti mengumpulkan hasil hutan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan, berladang yang mengakibatkan deforestasi, kekeringan dan keinginan masyarakat untuk menanam suatu komoditas untuk meningkatkan pendapatan rakyat belum banyak disentuh. Sehingga perlu disusun desain pengembangan kawasan perbatasan melalui pengelolaan hutan sebagai strategi menyeimbangkan pembangunan berbasis ekosistem dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi dan sosial dengan keterpaduan dalam lanskap wilayah.

Researcher :

F.X. Herwirawan


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 51x)
25 Luas dan Nomenklatur KPH Sebagai Upaya Untuk Mewujudkan Efektivitas Pengelolaan Hutan

Abstract :

Filosofi pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) adalah kesatuan pengelolaan hutan terkecil di tingkat tapak. Ada ketidaksinkronan antara filosofi pembangunan KPH dan realitas yang ada di lapangan, sehingga kehadiran KPH belum mampu memperbaiki tata kelola hutan di Indonesia. Luasnya wilayah KPH yang ada saat ini dikhawatirkan akan menyebabkan pengelolaan hutan tidak efektif dan efisien. Pembagian KPH menjadi Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) juga menimbulkan permasalahan di lapangan.  Rekomendasi kebijakan yang disarankan adalah:

  1. Penghapusan nomenklatur Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) menjadi Kesatuan Pengelolaan Hutan dan menggabungkan Direktorat KPHL dan Direktorat KPHP menjadi Direktorat KPH.
  2. Pemerintah menetapkan luas maksimal KPH sesuai dengan karakteristik sumber daya hutan, karakteristik sosial ekonomi setempat dan tujuan pengelolaannya.
  3. Memfasilitasi setiap KPH yang ada saat ini menjadi Bagian Wilayah Hutan (BDH) dan resort dengan kelengkapan sumber daya manusia (SDM)-nya.
Researcher :
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si

Fentie Y Sallaka, Ramawati dan Dewi  Ratna Kurniasari


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 47x)
26 Peran Peneliti Amatir (Citizen Scientist) dalam Memetakan Distribusi Burung: Studi Kasus di Pulau Jawa

Abstract :

Peran peniliti amatir di Indonesia belum banyak dikaji di Indonesia. Padahal di banyak negara maju, hasil dari gerakan peneliti amatir sudah banyak menjawab pertanyaan penting dalam berbagai ilmu. Memanfaatkan peran peneliti amatir sangat efektif untuk mengetahui fenomena lingkungan pada skala sangat luas dan rentang waktu lama. Informasi tentang distribusi burung pada skala seluas negara Indonesia adalah salah satu fenomena biotik yang hanya bisa dilakukan oleh peneliti amatir.

Penelitian ini bertujuan untuk (a) menganalisis preferensi pengamat burung amatir dalam memilih lokasi pengamatan, (b) menganalisis prediksi distribusi burung berdasarkan data pengamat burung amatir, dan (c) menganalisis efektivitas peran pengamat burung amatir dalam memetakan burung berdasarkan kelompok burung yang berpeluang besar terdokumentasikan dalam skema citizen scientist.

Researcher :

Swiss Winnasis Bagus P.


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 39x)
27 Efektivitas Pengelolaan Kawasan Taman Nasional

Abstract :

Berdasarkan hasil penilaian terhadap 50 taman nasional (TN), ketidaktepatan dalam pengalokasian dan penempatan pegawai menjadi salah satu penyebab rendahnya capaian indeks efektivitas pengelolaan kawasan di sebagian besar TN di Indonesia. Ketidaktepatan pengalokasian dan penempatan pegawai terjadi karena ketidaktersediaan dokumen kebutuhan pegawai yang disusun berdasarkan beban kerja untuk menjadi rujukan dalam perencanaan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Oleh sebab itu, penyelenggaraan pelatihan penyusunan dokumen kebutuhan pegawai dan penyediaan contoh dokumen kebutuhan pegawai yang dapat dijadikan rujukan menjadi penting untuk dilakukan.  Hal lainnya, beberapa peraturan yang ada, yaitu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor P.7/Menlhk/Setjen/OTL.0/1/2016 dan Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Perdirjen KSDAE) Nomor P.5/KSDAE/SET/OTL.1/5/2018 perlu dilakukan evaluasi karena belum sepenuhnya mendukung terciptanya efektivitas pengelolaan kawasan taman nasional.

Researcher :

Vera Tisnawati


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 34x)
28 Menerapkan Pengelolaan Hama Terpadu Untuk Mendukung Keberhasilan Budi Daya Jabon

Abstract :

Jabon merupakan tanaman yang sudah banyak dibudidayakan dalam skala luas sejak tahun 2010 dalam bentuk hutan rakyat dan hutan tanaman industri (HTI). Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya jabon adalah adanya serangan hama. Upaya pencegahan hama cenderung dikesampingkan. Kegiatan pengendalian hama selama ini banyak menggunakan insektisida kimia berbahan sintetis, selain tidak ramah lingkungan, seringkali gagal mengatasi permasalahan hama. Oleh karena itu, penerapan sistem Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan hama pada tanaman jabon dengan tetap memperhatikan aspek ekologi dan ekonomi.

Researcher :

Sri Utami, SP. M.Si


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 34x)
29 Peran Instrumen Mitigasi Perubahan Iklim Berbasis Pasar dan Pencapaian Target NDC

Abstract :

Peran swasta dalam penurunan emisi dan pencapaian target NDC dapat ditngkatkan melalui penerapan instrumen berbasis pasar di dalam negeri sebagai alat bantu kebijakan rendah karbon. Beberapa hal yang dapat segera dilakukan untuk mendukung penerapan instrumen ini adalah:

  1. Sosialisasi instrumen berbasis pasar dan ujicoba terbatas (pilot) untuk sektor energi yang disertai dengan pengembangan sistem kuota emisi.
  2. Mendorong demand sukarela (voluntary) selama belum ada kewajiban pengendalian atau pembatasan emisi GRK di tngkat aktor dengan memberikan insentf berupa rekognisi atas capaian penurunan emisi ataupun memberikan kemudahan-kemudahan lainnya berdasarkan peraturan yang telah ada.
  3. Mengembangkan standar dan panduan inventarisasi, pengukuran, pelaporan dan verifkasi emisi untuk semua sektor sehingga dapat diintegrasikan dalam suatu sistem registrasi nasional.

Secara bersamaan, Pemerintah dapat melakukan hal-hal berikut:

  1. Menerapkan prinsip kehat-hatan dan analisa biaya-manfaat bila akan terlibat dalam pasar karbon internasional dalam Persetujuan Paris mengingat semua hasil aksi mitgasi yang diotorisasi oleh Pemerintah Indonesia untuk digunakan negara lain mencapai NDC-nya akan dihitung sebagai emisi Indonesia.
  2. Membangun kebijakan pembatasan emisi dan program peningkatan kapasitas yang sistemats berdasarkan berbagai kebijakan eksistng yang relevan dan akan sangat membantu perencanaan dan pencapaian target NDC.
Researcher :
Dr. Raden Deden Djaenudin S.Si., M.Si.
Mohamad Iqbal S.Hut., M.Si.
Donny Wicaksono S.Hut., M.Sc.

Sukandar, Andi Samyanugraha, Ridwan Pambudi, Aldi Aufar, Debi Nathalia


Publisher : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 42x)
30 Pembelajaran dari Penerapan Instrumen Berbasis Pasar Sektor Energi di Indonesia

Abstract :

Analisis berbagai instrumen berbasis pasar (IBP) mengungkapkan bahwa penggunaan harga karbon
dan mekanisme pasar karbon menghadirkan pendekatan biaya yang paling efsien dan efektf
dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK). Mekanisme kredit karbon adalah salah satu
jenis IBP yang telah pernah diikut Indonesia melalui Clean Development Mechanism dan Joint Creditng Mechanism.
Untuk mendorong upaya pencapaian NDC dan memberikan insentf bagi aksi mitgasi di dalam
negeri, Indonesia perlu membangun mekanisme kredit karbon domestk yang sesuai dengan kondisi
dalam negeri. Kredit karbon dari mekanisme domestk ini dapat dikaitkan dengan berbagai kebijakan rendah karbon yang telah dimiliki Indonesia.
Berbagai pembelajaran dari keterlibatan Indonesia dalam mekanisme internasional sepert CDM dan JCM membawa kesimpulan bahwa upaya-upaya di bawah ini dapat dilakukan dalam rangka membangun mekanisme kredit karbon domestk:

  • Mendorong mekanisme IBP domestk dengan prosedur yang sederhana, biaya transaksi yang
    murah, tngkat carbon price yang memadai, dan mekanisme insentf pembayaran yang jelas.
  • Membangun mekanisme sertfkasi hasil aksi mitgasi untuk penguatan Sistem Registri Nasional.
  • Mengelaborasi mekanisme yang berbasis insentf non-moneter, misalnya yang terkait dengan rekognisi kontribusi terhadap mitgasi perubahan iklim atau insentf lainnya.
  • Meningkatkan keselarasan kebijakan pusat dan daerah dalam penerapan instrumen berbasis
    pasar untuk meningkatkan kepastan usaha.
  • Mengembangkan kerja sama sukarela antar negara untuk meningkatkan ambisi mitgasi dan adaptasi perubahan iklim, mendukung pembangunan berkelanjutan, dan menjaga integritas lingkungan dalam konteks pencapaian NDC Indonesia.
Researcher :
Mohamad Iqbal S.Hut., M.Si.
Dr. Raden Deden Djaenudin S.Si., M.Si.
Donny Wicaksono S.Hut., M.Sc.

Sukandar, Andi Samyanugraha, Ridwan Pambudi, Aldi Aufar, Debi


Publisher : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 24x)
31 Kesiapan Data Emisi Untuk Instrumen Mitigasi Berbasis Pasar

Abstract :

Untuk memenuhi komitmen penurunan emisi gas rumah kaca sebagaimana dokumen Natonally
Determined Contributon (NDC) Indonesia dalam Persetujan Paris, diperlukan instrumen kebijakan
inovatf yang dapat membatasi dan/atau mengurangi emisi GRK sekaligus dapat memobilisasi investasi
rendah emisi secara optmal dan
cost-e?ectve. Instrumen berbasis pasar sepert skema perdagangan
karbon dapat menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan upaya mitgasi perubahan iklim
dengan memberikan nilai ekonomis bagi setap unit penurunan emisi.
Skema perdagangan karbon membutuhkan data valid jumlah real emisi yang diturunkan dari setap pelaku.
Tanpa itu, sulit untuk memastkan pengurangan emisi bisa dikalkulasi jika kelak masuk dalam perdagangan
karbon. Data emisi GRK yang berkualitas akan mendukung pengembangan kebijakan yang tepat
yang pada akhirnya akan memungkinkan pemanfaatan mekanisme pasar secara optmal. Upaya-upaya yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas data emisi GRK:
• Mendorong kebijakan yang mewajibkan perusahaan-perusahaan besar untuk melaporkan
emisi GRK-nya. Perlu ada strategi lintas sektor yang komprehensif sehingga kewajiban pelaporan ini
tdak redundant yang dapat menimbulkan risiko inkonsistensi data, peningkatan biaya kegiatan
ekonomi dan non-compliance akibat keengganan dan/atau kesulitan yang dialami industri.

  • Mendorong K/L teknis untuk membuat pedoman pelaporan emisi bagi sektor binaannya.
  • Mendorong pemanfaatan pelaporan emisi GRK untuk pemantauan kinerja bidang energi dan
    lingkungan.
  • Melakukan koordinasi kebijakan pelaporan emisi GRK sehingga data emisi GRK dari tngkat pelaku
    dapat diterima penanggung jawab sektor secara efsien, valid dan mampu telusur.
  • Mendorong sinkronisasi sistem pelaporan yang terkait emisi GRK sehingga industri cukup melapor
    dan/atau memasukkan data sekali saja, tdak perlu memasukkan data yang sama ke berbagai
    sistem pelaporan
    .
Researcher :
Dr. Raden Deden Djaenudin S.Si., M.Si.
Donny Wicaksono S.Hut., M.Sc.
Mohamad Iqbal S.Hut., M.Si.

Ridwan Pambudi, Aldi Aufar, Sukandar, Andi Samyanugraha, Debi Nathalia


Publisher : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 26x)
32 Status Kesiapan Kebijakan Untuk Penerapan Instrumen Mitigasi Berbasis Pasar di Indonesia

Abstract :

Indonesia telah mengembangkan sejumlah besar kebijakan dan peraturan yang dapat
mendukung pelaksanaan instrumen mitgasi perubahan iklim berbasis pasar atau biasa
disebut "pasar karbon". Untuk menyikapi lebih lanjut opsi instrumen kebijakan ini,
dapat dilakukan beberapa hal:

  1. Sosialisasi instrumen berbasis pasar
    Peningkatan kapasitas dan pemahaman dari pemangku kepentngan terkait kemungkinan untuk menerapkan instrumen berbasis pasar sebagai alat pelaksana kebijakan di berbagai sektor dapat dilakukan.

  2. Koordinasi perumusan peta jalan untuk sistem perdagangan izin emisi
    Menerapkan instrumen berbasis pasar, khususnya dalam bentuk sistem perdagangan izin emisi, akan memberikan insentf nyata yang membuat penghematan energi dan pemanfaatan energi terbarukan menjadi pilihan yang lebih hemat biaya bila dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar dan teknologi yang tnggi karbon. Untuk itu, perlu dilakukan koordinasi dengan sektor teknis untuk merumuskan peta jalan menuju penerapan sistem perdagangan izin emisi/limbah sebelum 2024.

  3. Mempersiapkan mekanisme penyaluran insentf pengurangan emisi GRK (result-based fnancing/RBF) bagi sektor non-kehutanan melalui BPDLH dan sumber pendanaan lainnya.

    Dalam hal ini terdapat elemen-elemen yang sudah ada dibawah kerangka kebijakan yang ada yang dapat diarahkan serta digunakan untuk implementasi RBF. Di bawah kerangka kerja saat ini, pendanaan dalam bentuk subsidi (sebagaimana didefnisikan di bawah ketentuan untuk subsidi dalam Instrumen Ekonomi Lingkungan dan/atau yang disediakan Otoritas Jasa Keuangan melalui No.51/POJK.03/2017) dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan proyek energi terbarukan. Oleh karena itu, jika sumber pendanaan ini dapat dialokasikan untuk membiayai skema pembiayaan berbasis hasil, pendanaan akan berfungsi sebagai insentf lebih lanjut kepada
    pengembang proyek untuk melaksanakan proyeknya secara efsien karena manfaat keuangan dari skema
    RBF hanya akan direalisasikan dari hasil operasi mereka.
Researcher :
Dr. Raden Deden Djaenudin S.Si., M.Si.
Donny Wicaksono S.Hut., M.Sc.
Mohamad Iqbal S.Hut., M.Si.

Debi Nathalia, Sukandar, Andi Samyanugraha, Ridwan Pambudi, Aldi Aufar


Publisher : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 26x)
33 Strategi Implementasi Instrumen Mitigasi Berbasis Pasar Berdasarkan Potensi dan Biaya Mitigasi

Abstract :

Dalam menentukan strategi penerapan instrumen pasar karbon atau carbon value yang berdasarkan
biaya pengurangan emisi, Pemerintah dapat menggunakan kurva
biaya pengurangan emisi
(
marginal abatement cost curve atau MACC).
MAC memberikan petunjuk tentang biaya untuk mengurangi per unit emisi selama umur proyek
atau kegiatan mitgasi tertentu bila dibandingkan dengan biaya kegiatan yang menjadi baseline,
umumnya dinyatakan dalam satuan USD/ton CO2e. Untuk dapat menggunakan biaya mitgasi sebagai acuan strategi instrumen berbasis pasar secara optmal, Pemerintah perlu:

  1. Memfasilitasi pengumpulan data dan informasi tentang biaya mitgasi
    Bila dibandingkan dengan beberapa indikator lain, misalnya payback period, MACC lebih tepat untuk
    menjadi acuan pengambilan keputusan mitgasi karena mencerminkan biaya suatu opsi mitgasi selama umur proyek. Namun demikian perlu kehati-hatian dalam membangun MACC, misalnya dalam memilih asumsi biaya teknologi
    baseline.
    Untuk itu, Pemerintah perlu membangun database biaya teknologi, misalnya CAPEX dan OPEX untuk
    setap jenis aksi mitgasi. Selain bermanfaat untuk membangun MACC,
    database ini dapat dirujuk
    banyak pihak untuk melakukan perencanaan maupun pengambilan keputusan yang terkait.

  2. Merumuskan berbagai opsi insentf, termasuk jenis-jenis instrumen mitgasi berbasis pasar,
    sesuai dengan tngkat biaya dan potensi mitgasinya.
    Walaupun penerapan carbon price dapat mencakup keseluruhan potensi mitgasi, diperlukan pula kebijakan lain yang komplementer untuk menyikapi tantangan yang menghambat perwujudan aksi mitgasi. Misalnya dalam hal aksi mitgasi yang berbiaya negatf (biasanya adalah kegiatan efsiensi energi), masih banyak jenis kegiatan yang belum
    dilakukan walaupun di atas kertas menguntungkan secara ekonomi dan tergolong
    low-hanging fruit. Hambatannya bisa dari sisi biaya investasi yang tnggi, terbatasnya skema pembiayaan, kurangnya kapasitas teknis, dan lain-lain, sehingga diperlukan kebijakan ataupun program yang khusus untuk memungkinkan potensi mitgasi ini dikonversi menjadi pengurangan emisi. Beberapa opsi kebijakan/program untuk kegiatan yang berbiaya negatf ini adalah:

    • Bantuan teknis dari pemerintah untuk pengembangan studi kelayakan proyek.
    • Subsidi parsial dari pemerintah berupa pembayaran insentf berbasis kinerja (
    result-based payment) perunit pengurangan emisi. Untuk kegiatan yang berbiaya mitgasi rendah, pemerintah dapat menetapkan insentf yang cukup saja untuk memperbaiki kinerja ekonom proyek, misalnya mempercepat payback period. Perlu studi lebih lanjut untuk menetapkan tngkat insentf ini yang idealnya adalah lebih kecil dari nilai manfaat yang akan diterima masyarakat dari pengurangan emisi yang terjadi.
    • Pemberian insentf non-moneter, misalnya rekognisi, kemudahan mengakses pembiayaan, dan sebagainya.

Dalam hal kegiatan mitgasi yang biayanya tergolong tnggi, Pemerintah dapat menerapkan kebijakan atau program
dengan sasaran agar MAC-nya menurun dalam jangka panjang. Insentf ekonomi untuk kegiatan berbiaya mitgasi
tnggi sebaiknya tdak berasal dari anggaran negara tetapi dari
internatonal support, misalnya dengan cara melakukan kerjasama perdagangan karbon antar-negara yang khusus untuk kegiatan mitgasi berbiaya tnggi. Dengan asumsi bahwa kegiatan mitgasi tersebut tdak akan terlaksana tanpa insentf yang signifkan maka dapat dijustfkasi dampak dari transfer internasional hasil kegiatan mitgasi tersebut terhadap pencapaian NDC Indonesia.

Researcher :
Dr. Raden Deden Djaenudin S.Si., M.Si.
Donny Wicaksono S.Hut., M.Sc.
Mohamad Iqbal S.Hut., M.Si.

Andi Samyanugraha, Sukandar, Ridwan Pambudi, Aldi Aufar, Debi Nathalia


Publisher : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Type : Policy Brief
Year : 2018
Download (hits : 27x)
34 Peran Konservasi Ekosistem Esensial Mangrove untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Abstract :

Mangrove adalah salah satu ekosistem esensial yang selain menyediakan hasil hutan kayu dan non kayu juga menyediakan beragam jasa lingkungan. Salah satu jasa lingkungan yang diberikan oleh mangrove adalah sebagai penyimpan karbon alami. Dengan demikian, konservasi ekosistem esensial mangrove tidak hanya mampu menjaga kelangsungan dan kelestarian keanekaragaman hayati tetapi juga berperan untuk mitigasi perubahan iklim. Peran konservasi mangrove untuk mitigasi perubahan iklim ditunjukkan dengan besarnya emisi gas rumah kaca (GRK) tahunan yang dapat dihindari karena pengelolaan kawasan konservasi ekosistem esensial mangrove. Hal ini sesuai dengan arah pembangunan Indonesia menuju rendah karbon dan ketahanan iklim seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi GRK (RAN-GRK) dalam mendukung komitmen Nationally Determined Contribution (NDC). Namun sampai saat ini upaya untuk memperkuat upaya konservasi dalam mitigasi perubahan iklim masih terbatas. Policy brief ini menjelaskan arti penting peran konservasi mangrove untuk mitigasi perubahan iklim dan memberikan opsi kuantifikasi dengan pendekatan penilaian manfaat karbon dan non karbon.

Researcher :
M. Zahrul Muttaqin S.Hut.,M.M.,M.F,PhD.

Frida Sidik, Haruni Krisnawati


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2017
Download (hits : 36x)
35 Menggagas Energi Biomassa Hutan Sebagai Sumber Energi Terbarukan

Abstract :

Pengembangan energi dari kayu sebagai salah satu alternatif pengembangan yang sangat penting dalam pengusahaan hutan dan hasil hutan. Hal ini sejalan dengan program prioritas 2018 pada Sidang Kabinet Paripurna tanggal 1 Pebruari 2017 tentang Ketahanan energi 2018 yang meliputi 1) Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Konservasi energi; 2) Pemenuhan kebutuhan energi nasional. Kontribusi sub sektor kehutanan dalam program tersebut antara lain yaitu mengoptimalkan manfaat ekonomi pengusahaan budidaya tanaman penghasil energi, pasokan/pemanfaatan limbah kayu dan pengolahan energi biomassa hutan sebagai EBT dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional, selain itu dapat menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan bagi masyarakat dan penduduk sekitar hutan. Berkaitan dengan hal tersebut dalam jangka pendek, menengah dan panjang, Policy Brief ini dimaksudkan untuk memberi informasi sebagai gagasan dalam mengembangkan sumber energi terbarukan yang bersumber dari biomassa hutan. Kajian difokuskan pada aspek sosial, ekonomi dan kebijakan energi biomassa hutan sebagai energi terbarukan dalam upaya menyamakan presepsi dalam pengembangan energi biomassa hutan. Selain itu bagi industri pengolahan kayu dapat mendaur ulang limbah kayu untuk energi terbarukan. Hasil kajian menunjukan bahwa pengembangan Hutan Tanaman Industri Energi (HTI-E) perlu digagas oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk dimotivasi dan mendapat dukungan politik dari legislatif sehingga menjadi komitmen program prioritas bersama.

Researcher :
Ir Rachman Effendi M.Sc
Dr. Ir Triyono Puspitodjati M.Sc
Indah Bangsawan S.P., M.Si.

Nanang Rofandi


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2017
Download (hits : 49x)
36 Kiat Mensejahterakan Masyarakat Lokal Melalui Perhutanan Sosial

Abstract :
  • Perhutana Sosial (PS) dipandang sebagai pendekatan yang sesuai dalam pengelolaan hutan agar terjadi pemerataan kesempatan, kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat setempat. Namun sasaran kebijakan pengembangan PS 12,7 juta ha pada tahun 2019 masih menghadapi tantangan cukup besar dikarenakan kapasitas ditingkat lokal yang sangat beragam.
  • Pengajuan usulan areal hutan untuk PS perlu mempertimbangkan adanya kegiatan usaha budidaya tanaman yang telah dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar hutan umumnya mempunyai mata pencaharian sebagai pemungut hasil hutan, penambang, berburu, dan lain-lain sehingga pengembangan PS selain perlu diawali dengan identifikasi potensi sumber daya, juga perlu prakondisi masyarakat untuk merubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat agar mempunyai motivasi dan keterampilan sebagai pembudidaya tanaman.
  • Hasil hutan bukan kayu (HHBK) berperan penting selama menunggu saat panen kayu, sehingga pengembangan PS direkomendasikan menggunakan teknik agroforestri yang mengkombinasikan tanaman kayu dengan jenis-jenis tanaman buah-buahan, tanaman perkebunan, tanaman semusim/pangan, empon-empon, tanaman hijauan pakan ternak, menghasilkan berbagai jenis HHBK secara berkesinambungan.
  • Produk PS yang komersial mempunyai rantai pemasaran lengkap dari petani sampai pengguna akhir seperti industri/eksportir, sepanjang rantai pemasaran tercipta nilai tambah yang dinikmati oleh para pihak yang terlibat, dipasarkan di dalam negeri dan di ekspor, permintaannya tinggi dan pasarnya luas. Untuk itu diperlukan sarana prasarana jalan dan angkutan agar hasil PS dapat dipasarkan dengan mudah dan biaya angkut yang murah.
Researcher :
Dra Setiasih Irawanti M.Si
Aneka Prawesti Suka S.Sos., M.SE, M.A.
Surati S.Hut. M.Si

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2017
Download (hits : 69x)
37 Memastikan Program Perhutanan Sosial (12,7 Juta ha) Tepat Sasaran

Abstract :

Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan telah diwujudkan dalam program Perhutanan Sosial. Sudah hampir 35 tahun kebijakan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dilaksanakan dan sudah 46 peraturan dikeluarkan, serta 36 peraturan direvisi, kesejahteraan masyarakat dan hutan lestari belum juga terwujud. Hal ini terjadi karena pemberdayaan masyarakat sekitar hutan menyangkut pemberdayaan ekonomi, sosial dan ekologi. Kepentingan ekonomi selalu berbenturan dengan kepentingan ekologi, sehingga kebijakan yang dibuat membatasi keinginan masyarakat untuk memaksimalkan produktivitas lahannya. Program perhutanan sosial yang dipilih masyarakat sering tidak sesuai dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Perbedaan masing-masing program perhutanan sosial kurang jelas dipahami masyarakat, sehingga program yang dipilih tidak memecahkan permasalahan yang dihadapi.

Researcher :
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2017
Download (hits : 38x)
38 Kriteria Penilaian Cepat Kesesuaian Habitat Untuk Lokasi Pelepasliaran Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson) : Taman Nasional Bukit Tigapuluh

Abstract :

Peraturan Menteri Kehutanan No.57/Menhut-II/2008 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SARK) orangutan Indonesia 2007-2017 menyatakan bahwa orangutan hasil tangkapan yang ada di pusat rehabilitasi harus dilepasliarkan untuk meningkatkan populasinya di alam. Namun seringkali program pelepasliaran mengalami kegagalan karena habitat barunya tidak mampu mendukung proses adaptasi dan perkembangan kehidupan orangutan. Penyusunan kriteria ini dimaksudkan untuk menjadi bahan acuan kebijakan dalam penyempurnaan peraturan tersebut dan mengevaluasi program pelepasliaran orangutan di TN. Bukit Tigapuluh (TNBT). Pengumpulan data dilakukan dengan cara review dan study of the art  terhadap terhadap hasil-hasil penelitian  dan berbagai literatur terkait dengan analisis menggunakan indeks HSI (Habitat Suitability Index) dan secara deskriptif. Kriteria yang dapat menjadi bahan acuan dalam pemilihan lokasi pelepasliaran satwaliar, terutama orangutan sedikitnya terdapat 18 kriteria yang meliputi aspek ekologi, aspek sosial dan aktivitas masyarakat serta aspek kelembagaan.

Researcher :

Wanda Kuswanda


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2017
Download (hits : 55x)
39 Peluang ‘Blue’ Carbon sebagai Komponen Khusus NDC Indonesia

Abstract :

Blue Carbon atau Karbon Biru adalah karbon yang tersimpan di dalam ekosistem pesisir dan laut. Pada perkembangannya, ada tiga ekosistem yang menjadi fokus utama blue carbon yaitu hutan bakau (mangrove), padang lamun (seagrass meadow) dan rawa asin (salt marsh). Keutamaan dari ketiga ekosistem tersebut adalah memiliki daya serap dan simpan karbon yang besar.

Seperti halnya gambut, penyimpanan blue carbon terbesar terdapat di dalam tanah, dimana komponen ini tidak masuk dalam perhitungan yang dilaporkan dalam inventarisasi gas rumah kaca (GRK) sektor hutan/land use, land use change and forestry (LULUCF). Akibatnya, sektor LULUCF kehilangan peluang besar untuk mendukung Indonesia mencapai target penurunan emisi GRK sebesar 26% dengan kemampuan sendiri (41% dengan dukungan internasional) dari Business As Usual (BAU) pada tahun 2020 atau 29% pada tahun 2030.

Policy brief ini memberikan rekomendasi untuk mengangkat blue carbon sebagai komponen khusus dalam Nationally Determined Contributions (NDC) Indonesia. Dalam tahap persiapan menuju NDC, dibutuhkan dokumen nasional, penetapan kebijakan, dan sinergi kerja blue carbon yang melibatkan institusi/lembaga lintas sektoral terkait di Indonesia.

Sebagai komponen khusus NDC, hutan mangrove berpotensi menjadi aset penting dalam penurunan emisi GRK karena Indonesia merupakan negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia. Selain memberikan peluang untuk mengisi gap dalam program penurunan emisi, upaya ini menunjukkan dukungan aktif Indonesia pada sektor kelautan sebagai salah satu fokus utama mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Researcher :

Frida Sidik dan Haruni Krisnawati


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2017
Download (hits : 66x)
40 Penyelamatan Sejarah Hutan Tropis Purba Melalui Konservasi Fosil Kayu

Abstract :

Fosil kayu merupakan bukti autentik tumbuhnya suatu jenis pohon pada zaman purba. Kajian mengenai fosil kayu termasuk ke dalam bidang ilmu paleobotani yang meliputi aspek fosil tumbuhan, rekonstruksi takson, dan sejarah evolusi dunia tumbuhan. Di Indonesia, fosil kayu ditemukan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Selama ini, fosil kayu dimanfaatkan sebagai komoditi ekonomi yang diperjualbelikan baik skala domestik maupun internasional. Seiring dengan maraknya perdagangan batu mulia, fosil kayu juga semakin gencar dieksploitasi untuk diperdagangkan. Hal ini menyebabkan adanya kekhawatiran fosil kayu menjadi langka. Selama ini fosil kayu hanya dinilai oleh para kolektor berdasarkan keindahan penampakan luarnya tanpa mengetahui informasi ilmiah di dalamnya dan nilai historisnya. Pengetahuan tentang nilai historis fosil kayu sangatlah penting untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan bagi generasi yang akan datang khususnya mengenai sejarah evolusi dunia tumbuhan. Aspek yang dapat dipelajari antara lain dari segi ilmu anatomi kayu, geologi, dan fitogeografi. Ilmu anatomi dapat digunakan untuk melakukan identifikasi jenis kayu sehingga identitas botani fosil kayu yang ditemukan dapat diketahui. Dari aspek geologis, umur fosil kayu dapat diprediksi dari jenis sedimen dan batuan dimana fosil kayu ditemukan. Terkait dengan fitogeografi, penemuan fosil kayu dapat digunakan untuk mempelajari sejarah persebaran jenis suatu pohon di masa lampau berikut kemungkinan peyebab kepunahannya di masa sekarang.

Researcher :

Listya Mustika Dewi, Andianto, Ratih Damayanti, dan Krisdianto


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2017
Download (hits : 39x)
41 Langkah Strategis Menuju Percepatan Realisasi Capaian Program Perhutanan Sosial

Abstract :

Program Perhutanan Sosial (PS) yang merupakan wujud dari reformasi agraria di bidang kehutanan memiliki potensi yang signifikan untuk menciptakan alternatif sumber pendapatan dan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar hutan. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah membuka akses kepada masyarakat, khususnya yang tinggal di dalam atau di sekitar hutan untuk mengelola dan memanfaatkan wilayah hutan di sekitarnya. Meskipun telah didukung oleh berbagai payung hukum baik berupa Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri serta Peraturan Direktur Jenderal, realisasi keberhasilan pengembangan program Perhutanan Sosial masih sangat rendah, bahkan jauh dari target yang ditetapkan. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah strategis untuk mendukung percepatan realisasi  program Perhutanan Sosial antara lain melalui pendekatan pro-aktif dari pihak pengelola dan pemegang izin untuk menginisiasi pengembangan skema-skema PS; Telaah dan penataan ulang terhadap pencadangan areal untuk PS dengan melibatkan masyarakat untuk mereduksi insiden konflik tenurial serta overlapping klaim atas areal yang dialokasikan bagi pengembangan PS; Pengembangan usaha agribisnis berbasis hutan yang memiliki backward linkage dan forward linkage; serta peningkatan peran aktif Kelompok Kerja Program Perhutanan Sosial (Pokja-PPS) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) serta parapihak terkait untuk memfasilitasi pengembangan program.

Researcher :

Sri Suharti, Kirsfianti L Ginoga, Murniati, Dona Octavia, Ayun Windyoningrum


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2017
Download (hits : 67x)
42 Kebijakan Fiskal untuk Mendorong Keterlibatan Swasta dalam REDD+

Abstract :

Kebijakan fiskal sebagai instrumen ekonomi dinilai efektif untuk meningkatkan keterlibatan swasta dalam Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) karena sifat sektor swasta yang lebih mengedepankan keuntungan ekonomi. Regulasi dan kebijakan yang saat ini berkembang dianggap belum efektif mendorong swasta untuk terlibat dalam REDD karena saat ini dinilai memberatkan pihak swasta untuk melakukan upaya konservasi dalam konteks REDD+. Oleh karena itu, rekayasa kebijakan fiskal sangat diperlukan untuk mendorong swasta terlibat dalam REDD+.

Researcher :
Mimi Salminah S.Hut., M.For.Sc.
Dr Fitri Nurfatriani S.Hut, M.Si

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2017
Download (hits : 52x)
43 Penerapan Bioteknologi pada Seleksi Sengon Unggul Toleran Penyakit Karat Tumor untuk Mendukung Pemuliaan Tanaman Partisipatif (Participatory Plant Breeding)

Abstract :

Dalam beberapa dekade terakhir epidemi penyakit karat tumor (gall rust) pada sengon
menyerang secara luas pada berbagai wilayah secara luas di Indonesia. U. falcatarium
(Sacc.) McAlp. telah diidenti?kasi sebagai penyebab penyakit karat tumor pada
tanaman sengon. Upaya pencegahan dan penanggulangan belum menunjukkan hasil
signi?kan.
Potensi hutan rakyat yang cukup besar dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan
rakyat sekaligus dapat mendukung pasokan bahan baku industri kehutanan yang
berkualitas dan berkelanjutan tanpa mengabaikan kualitas lingkungan. Data jumlah
pohon dari hutan rakyat hasil sensus tahun 2013 oleh Biro Pusat Statistik (Anonim,
2014) menunjukkan bahwa pada tahun 2003 sampai dengan 2013 menunjukkan
peningkatan penanaman pohon sengon yaitu 448,18 %. Banyaknya jumlah pohon
sengon pada hutan rakyat merupakan parameter tingginya minat masyarakat untuk
mengusahakan jenis ini, terjaganya bahan baku dan jaminan harga jual dengan baik.
Meluasnya budidaya sengon secara monokultur, tertinggi terjadi di pulau Jawa
mencapai 510,63 % dari tahun 2003 hingga 2013 berpotensi terjadi peningkatan
intensitas serangan penyakit karat tumor di berbagai wilayah.

Researcher :

Dr. Ir. Asri Insiana Putri, MP.


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2017
Download (hits : 28x)
44 Pengembangan Agroforestry Macadamia dan Lebah Madu: Upaya Rehabilitasi Lahan Kritis di Danau Toba

Abstract :

Ekosistem Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba telah terdegradasi. Seluas 116.424 hektar atau 40% dari daerah tangkapan tergolong kritis. Kondisi ini menyebabkan penurunan produktivitas lahan dan terbatasnya sumber mata pencaharian masyarakat. Program rehabilitasi di kawasan ini telah dimulai sejak lama dengan berbagai strategi, namun keberhasilan program dipertanyakan mengingat rendahnya kemampuan hidup tanaman. Menyadari multidimensi permasalahan degradasi DTA Danau Toba, upaya pemulihannya memerlukan pendekatan holistik, integratif serta pelibatan masyarakat secara aktif. Dalam hal ini, peningkatan produktivitas lahan yang sekaligus dapat mengembangkan sumber pendapatan masyarakat perlu diidentifikasi. Budidaya pertanian yang dipadukan dengan berbagai tanaman konservasi tanah dan air meningkatkan efisiensi dan optimalisasi penggunaan lahan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Dalam hal ini penanaman pohon multi manfaat Macadamia integrifolia pada sistem agroforestry yang terintegrasi dengan budidaya lebah diajukan sebagai skema yang perlu dikembangkan. Kemampuan adaptasi yang tinggi pada lahan kritis, potensi nektar yang melimpah, teknik budidaya yang tidak rumit, harga jual madu dan permintaannya yang tinggi merupakan beberapa kekuatan dan peluang bagi pengembangan skema ini. Sebuah peluang besar bagi upaya pengentasan kemiskinan masyarakat di DTA Danau Toba.

Researcher :

Dr. Aswandi, Pratiara S.Hut, M.Si, dan Cut Rizlani Kholibrina, S.Hut, M.Si


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2017
Download (hits : 45x)
45 Strategi Indonesia Bergabung dalam Trans-Pacific Partnership: Tinjauan dari Sisi Lingkungan

Abstract :

Kesepakatan kerja sama Trans-Pacific Partnership (TPP) memiliki komitmen yang kuat terhadap upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan. Kerja sama perdagangan global ini menawarkan kesempatan dan peluang yang positif dalam beberapa hal seperti pengembangan ekonomi rendah karbon, konservasi lingkungan dan pemanfaatan jasa lingkungan. Namun di sisi lain kesepakatan dalam kerja sama ini juga memberikan dampak negatif dari sisi sosial maupun politik Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan yang matang terkait dengan kesiapan dan kemampuan Indonesia untuk terlibat dalam peraturan TPP.

Secara umum, strategi Indonesia untuk bergabung dalam skema TPP adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan informasi tentang regulasi yang terkait dengan lingkungan yang telah ada dan berlaku.
  2. Melakukan penundaan pemberlakukan regulasi TPP pada bidang-bidang tertentu yang memerlukan tahapan penyiapan lebih lanjut.
  3. Negara anggota TPP dapat meminta investigasi terhadap pelanggaran hukum lingkungan dengan menggunakan hukum negara bersangkutan melalui proses yang transparan.
Researcher :
Iis Alviya S.P., M.S.E.
M. Zahrul Muttaqin S.Hut.,M.M.,M.F,PhD.
Drs Lukas Rumboko Wibowo M.Sc. Phd

Bambang Supriyanto


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2016
Download (hits : 27x)
46 Dukungan Regulasi Terhadap Rencana Penerapan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Ppk Blu) Di Kphp Yogyakarta, Sudah Cukupkah?

Abstract :

Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Yogyakarta adalah salah satu dari 120 KPH Model yang berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 439/Menhut-II/2007 tanggal 13 Desember 2007, memiliki luas kawasan ±16.358,60 ha. Sesuai dengan arah kebijakan pengembangan KPH ke depan, maka pola pengelolaan keuangan yang diharapkan diterapkan pada KPH adalah Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK BLU). Namun sampai saat kajian dilakukan (tahun 2015), KPHP Yogyakarta belum menerapkan pola ini. PPK BLU merupakan alternatif pilihan kebijakan pengelolaan keuangan yang dapat diterapkan oleh instansi pemerintah guna mengatasi kendala sistem pengganggaran yang dibatasi waktu (tahun anggaran). Sementara KPHP Yogyakarta yang memiliki sumber daya alam yang potensial memerlukan pengelolaan keuangan yang bersifat luwes. Regulasi terkait PPK BLU dalam segala tingkatan (undang-undang, peraturan pemerintah dan lain sebagainya) akan mendukung penerapan pola pengelolaan keuangan ini di KPHP Yogyakarta. Dalam rencana KPHP Yogyakarta menerapkan PPK BLU ini tentunya akan menghadapi tantangan baik dari internal maupun ekternal organisasi. Namun dinamika ini justru akan membuat besar dan memperkokoh organisasi KPHP Yogyakarta dengan keluwesan pola PPK BLU sehingga akan muncul berbagai terobosan yang menciptakan kemandirian organisasi.

Researcher :
Drs Epi Syahadat M.Si
Dewi Ratna Kurnia Sari S.Hut, M.Si.
Kuncoro Ariawan S.Hut

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2016
Download (hits : 50x)
47 Kebijakan Perizinan di Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Perlu Sinkronisasi dan Integrasi

Abstract :

Pengelolaan dan penanganan sistem perizinan di setiap bidang selalu saja menimbulkan persoalan baik bagi birokrat pengurus izin maupun bagi para pemohon izin atau investor yang akan menanamkan modalnya. Persoalan perizinan memang tidak terlepas dari sistem birokrasi yang melingkupinya, karena perizinan sangat dekat dan menjadi domain para birokrat sebelum sebuah usaha tersebut berjalan. Saat ini pemerintahan baru dalam “Kabinet Kerja” telah mencanangkan agar semua perizinan dikelola dalam satu pintu atau satu atap yang dikenal dengan Kantor Perizinan Terpadu (KPT). Melalui KPT diharapkan para investor yang akan tertarik untuk berinvestasi karena memperoleh kepastian usaha melalui proses perizinan yang mudah, murah dan tepat waktu. Persoalan perizinan selama ini berlaku sistem perizinan yang tersebar di berbagai kantor pemerintahan tanpa mencantumkan persyaratan yang jelas, lama waktu pengurusan dan biaya yang harus dikeluarkan oleh para pemohon izin. Sebagai contoh persoalan utama bagi proyek pembangunan infrastruktur adalah permasalahan izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) dan panjangnya prosedur rekomendasi perizinan di daerah. Proses pengurusan IPPKH masih tergolong lama dan tidak ada ukuran batas waktunya. Hal ini disebabkan IPPKH masih mempunyai banyak dimensi yang menuntut keterlibatan banyak sektor dalam peengurusannya (Wuryanto, 2012).

Researcher :
Drs Epi Syahadat M.Si
Dr. Ir Subarudi M.Wood.Sc
Andri Setiadi Kurniawan S.E.

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2016
Download (hits : 34x)
48 Strategi Pengelolaan Mangrove Berbasis Masyarakat

Abstract :

Ekosistem mangrove mempunyai peranan penting dalam pembangunan berkelanjutan baik secara ekologis, ekonomis maupun sosial. Pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan dapat dicapai jika mempertimbangkan seluruh aspek, baik aspek fisik maupun non fisik. Banyaknya stakeholder yang berkepentingan terhadap ekosistem mangrove berpotensi sebagai sumber konflik yang menyebabkan strategi pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan menjadi tidak efektif dan seringkali menemui kegagalan. Kegagalan pengelolaan mangrove diindikasikan dengan minimnya pelibatan masyarakat dan kebijakan manajemen yang bersifat top down.

Sebagai pihak yang bersentuhan langsung dengam ekosistem mangrove, masyarakat sekitar perlu dilibatkan dalam pengelolaannya. Pemerintah perlu memberi kesempatan kepada masyarakat sekitar kawasan untuk turut berpartisipasi dalam upaya pengelolaan mangrove dan pengawasannya, juga untuk meminimalisasi konflik yang menjadi penghambat dalam pengelolaan mangrove. Maka dari itu, diperlukan strategi pengelolaan mangrove berbasis masyarakat yang partisipatif dan memperhatikan persepsi dan nilai magrove bagi masyarakat.

Researcher :
Mega Lugina S.Hut., M.For.Sc.
Indartik S.Si, M.SE
Iis Alviya S.P., M.S.E.
Mirna Aulia Pribadi S.Hut., M.Si
Galih Kartika Sari S.Hut. MAP.

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2016
Download (hits : 39x)
49 Mendorong Kesiapan Implementasi REDD+ di Indonesia

Abstract :

Direktorat Jenderal Perubahan Iklim menyatakan bahwa tahun 2016 Indonesia phase II (transformasi) dan penyiapan Phase III (full implementation dengan result-based payment). Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sejauh manakah kesiapan implementasi REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) di Indonesia? Beberapa kemajuan sudah dicapai. Arsitektur REDD+; Strategi Nasional (Stranas) REDD+, Reference Emission Level (REL), Measurement, Reporting, Verification (MRV), safeguard, pendanaan REDD+ dan distribusi insentif; sudah diperlengkapi dengan dokumen, metodologi dan inisiasi kelembagaan, tetapi belum cukup kuat untuk masuk ke fase implementasi. Beberapa hal yang perlu dilakukan mendorong kesiapan implementasi REDD+ di Indonesia antara lain :

  1. Memperkuat legalitas dan legitimasi Stranas REDD+ dan pendampingan provinsi yang belum menyusun Strategi dan Rencana Aksi Provinsi (SRAP). Mempertegas posisi Stranas REDD+ sebagai  bagian dari Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN GRK). Stranas perlu direvisi dengan mensintesakan model-model yang ada melalui pembelajaran  dari Demonstration Activity (DA) dan inisatif lokal.
  2. Melengkapi dokumen Forest Reference Emission Level (FREL) dan membuat pedoman serta mekanisme sistem MRV yang transparan, akuntabel dan partisipatif yang membagi dengan jelas tanggung jawab masing-masing stakeholder. Meningkatan kapasitas daerah untuk melakukan MRV.
  3. Menetapkan prinsip dan kriteria umum safeguards Indonesia dan menyusun safeguard indicator sesuai kondisi masyarakat Indonesia. Menginternaslisasi safeguards ke dalam peraturan-peraturan perundang-undangan Indonesia dan membentuk kelembagaan safeguards yang terdiri atas unsur pemerintah, masyarakat, swasta dan NGOs.
  4. Percepatan benefit sharing dilakukan dengan mensintesa skema pendanaan yang sudah ada untuk mendesain skema baru yang mudah diakses, tidak berbelit dan transparant.
  5. Memperkuat kelembagaan REDD+ di pusat dan di daerah.
Researcher :
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si
Dr. Ir Subarudi M.Wood.Sc
R.A. Kushartati Budiningsih S.Hut., M.Si.
M. Zahrul Muttaqin S.Hut.,M.M.,M.F,PhD.

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2016
Download (hits : 36x)
50 Mengkritisi Kebijakan Penanganan Kantong Plastik di Indonesia

Abstract :

Indonesia memiliki masalah serius dengan sampah. Banyak dari sampah kantong plastik tidak sampai ke tempat pembuangan sampah dan hanya sedikit yang didaur ulang, sehingga banyak sampah kantong plastik tersebut berakhir di saluran air, sungai, sampai akhirnya ke laut. Kondisi tersebut menimbulkan banyak permasalahan lingkungan karena kantong plastik memerlukan waktu yang sangat lama untuk terurai di alam. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan beberapa Surat Edaran dan merancang Peraturan Menteri terkait kebijakan penggunaan kantong plastik di pasar modern. Kebijakan tersebut menjawab pertanyaan yang salah, tidak tepat sasaran, karena hanya ditujukan untuk ritel dan pasar modern.  Beberapa opsi kebijakan yang ditawarkan antara lain:

 

Opsi I

:

Mewajibkan produsen biji plastik untuk menambahkan zat aditif dalam memproduksi kantong plastik, sehingga menghasilkan kantong plastik ramah lingkungan

Opsi II

:

Pengusaha ritel dan pusat perpelanjaan menyediakan kantong belanja ramah lingkungan (kantong dari tapioka/kardus/kertas/serat dan lain-lain)

Opsi III

:

Pengenaan cukai kemasan plastik

Opsi IV

:

Menaikkan harga kantong plastik yang signifikan di pasar modern untuk merubah perilaku masyarakat. Hasil penjualannya dikelola oleh badan independent  untuk penanganan sampah di daerah setempat

Researcher :
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2016
Download (hits : 31x)
51 Kebijakan Reklamasi Pantai Utara Jakarta: Tinjauan Kritis untuk Perbaikan Kebijakan

Abstract :

Realisasi pelaksanaan reklamasi Pantai Utara Jakarta (PUJ) masih memerlukan kajian yang mendalam karena munculnya persoalan hukum, teknis, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Persoalan hukum ditandai dengan pelaksanaan pembangunan reklamasi berjalan lebih dahulu sebelum terbit peraturan perundangannya. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pelaksanaan Reklamasi PUJ terhenti karena adanya operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus suap dalam proses pembahasan Raperda tersebut. Selain itu perizinan reklamasi di Pulau G telah dibatalkan oleh Pengadilan Tata Uaha Negara (PTUN). Persyaratan teknis berupa material urugan yang digunakan masih belum jelas terkait dengan spesifikasi dan sumber pengambilannya (quary). Persoalan sosial muncul karena penggusuran kampung nelayan dan nelayan kesulitan untuk menambatkan perahunya sehingga lokasi penambatannya jauh dan meningkatkan biaya bahan bakar minyak (BBM) operasionalnya. Persoalan ekonomi ditandai dengan tingkat keuntungan yang tinggi diperoleh pengembang dengan menjual lahan hasil reklamasi antara Rp22juta - Rp35juta per meter² dan tidak ada kepentingan publik didalam pemanfaatan hasil reklamasi. Persoalan lingkungan hadir ketika dampak pembangunan reklamasi PUJ yang luas dan masif kepada wilayah tetangganya (Kabupaten Bekasi dan Provinsi Banten) tidak menjadi pertimbangan karena Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang dibuat secara parsial dan disyahkan sendiri oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta sehingga ada konflik kepentingan dalam pengesahannya.  Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka proyek reklamasi PUJ perlu dikaji dan dievaluasi ulang oleh Tim Independen dan hasil kajian tersebut dapat digunakan oleh pemerintah pusat untuk memutuskan apakah proyek reklamasi dilanjutkan atau dihentikan. Keputusan pemerintah untuk melanjutkan proyek reklamasi tanpa disertai dengan kajian tim independen akan menjadi preseden buruk bagi pemerintah di kemudian hari.

Researcher :
Dr. Ir Subarudi M.Wood.Sc
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si
Drs Lukas Rumboko Wibowo M.Sc. Phd

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2016
Download (hits : 46x)
52 Mendorong Pengembangan Danau Toba Sebagai Destinasi Pariwisata Prioritas

Abstract :

Penetapan Danau Toba sebagai destinasi pariwisata prioritas memerlukan kerja keras, karena pengelolaan danau tersebut dibelenggu oleh beberapa masalah seperti: timbunan sampah, pencemaran air oleh karamba jaring apung, perambahan hutan dan lahan kritis. Untuk mewujudkan Danau Toba sebagai destinasi pariwisata beberapa rekomendasi yang disarankan:

  1. Membangun icon wisata melalui 4A+DM (atraksi/attraction, akomodasi/accommodation, aksesbilitas/accessibility, diterima/acceptance) yang dikelola secara digital dalam pemasarannnya (marketing).
  2. Rehabilitasi lahan kritis dilakukan dengan memilih jenis tanaman yang bisa menjadi brand wilayah seperti rukam, kemenyan, kemiri, apokat, mangga parapat dsb melalui pola agroforestri dalam skema hutan adat, hutan kemasyarakatan (HKM), hutan tanaman rakyat (HTR) dan hutan rakyat.
  3. Kualitas air Danau Toba masih dapat digunakan untuk budi daya ikan air tawar, peternakan dan pengairan tananaman, hal ini mengindikasikan bahwa Danau Toba masih memungkinkan untuk direvitalisasi dalam rangka pengembangan pariwisata dan perekonomian lainnya.
  4. Restorasi Danau Toba sebaiknya dilakukan dengan menggunakan sistem zonasi yang meliputi zona perlindungan dan zona pemanfaatan (sub zona: pariwisata, perikanan air tawar (karamba), perkebunan, pertanian, peternakan dan pemanfaatan lainnya, seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
  5. Badan Otorita Pengelolaan Kawasan Pariwisata Danau Toba harus dikelola berdasarkan tata kelola (governance) yang baik dengan melibatkan pemerintah (government), dunia usaha (private sector) dan masyarakat (civil society). Tugas kesekretariatan yang harus segera dilakukan adalah: 1) membuat collaborative management plan, 2) membuat kesepakatan hak dan kewajiban, 3) resolusi konflik dan 4) membentuk badan hukum untuk mengelola dana publik yang salah satu sumbernya dari dana Corporate Social Responsibility (CSR).
Researcher :
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si

Bambang Supriyanto,  Jhony Holbert Pandjaitan dan Yadi Mulyadi


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2016
Download (hits : 40x)
53 Kajian Tinjauan Kritis Pengelolaan Hutan di Pulau Jawa

Abstract :

Hutan di Pulau Jawa mempuyai peran sebagai penyangga ekosistem Pulau Jawa, di sisi lain hutan di Pulau itu juga mengalami tekanan yang luar biasa dari masyarakat akibat perkembangan penduduk, sehingga hutan di Pulau Jawa juga dituntut untuk memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan dan berkontribusi terhadap pendapatan nasional. Disisi lain hutan di Pulau Jawa juga harus berfungsi ekologis. Data dari BNPB selama 200 tahun terakhir menunjukkan ada peningkatan kejadian bencana banjir dan tanah longsor di Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuka kesadaran bersama untuk memperbaiki kebijakan pengelolaan hutan di Pulau Jawa yang sebagian besar dikelola oleh Perum Perhutani. Hasil kajian menunjukkan bahwa ada gap implementasi kewenangan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Selama ini belum terobosan kebijakan dari Pemerintah Pusat untuk mengatasi tingginya konflik masyarakat di kawasan hutan yang dikelola Perum Perhutani. Pemerintahan Provinsi dan Pemerintah Kabupaten juga kurang dalam mengemban fungsi fasilitasi dan monev masyarakat sekitar hutan.

Researcher :
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si
R.A. Kushartati Budiningsih S.Hut., M.Si.
Dra Sylviani .
Elvida Yosefi Suryandari S.Hut, M.SE
Ir Ismatul Hakim M.Sc

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2015
Download (hits : 42x)
54 Potensi Kerugian PNBP dari PSDH Akibat Kebijakan Larangan Ekspor Kayu Bulat dan Harga Patokan Kayu serta Illegal Logging

Abstract :

Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencakup penerimaan yang diperoleh dari kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. Kegiatan pemanfaatan sumberdaya hutan, termasuk kegiatan pemanfaatan hutan produksi, merupakan salah satu kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam. Setiap kegiatan pemanfaatan hutan wajib disertai dengan izin pemanfaatan hutan. Setiap pemegang izin usaha pemanfaatan hutan dikenakan pungutan, yang salah satunya adalah PSDH (Provisi Sumber Daya Hutan). Hasil kajian menunjukkan bahwa kebijakan larangan ekspor kayu bulat dan harga patokan kayu serta illegal logging berpotensi merugikan PNBP dari PSDH.

Researcher :
Dr. Ir. Satria Astana M.Sc

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2015
Download (hits : 44x)
55 Menaikkan PNBP Sektor Kehutanan Tanpa Kebijakan Kenaikkan Tarif PSDH dan DR

Abstract :

1. Merosotnya produksi kayu bulat hutan alam mengacam penurunan PNBP sektor kehutanan. Untuk mengantisipasi penurunannya, pemerintah menaikkan besarnya tarif PSDH dan DR. Antisipasi melalui kenaikan tarif PSDH dan DR dapat mengganggu kinerja pengelolaan hutan melalui pngaruhnya terhadap biaya dan laba perusahaan. 2. Tingginya volume limbah kayu di petak tebang dapat dipandang sebagai peluang meningkatkan perolehan PNBP sektor kehutanan melalui pemanfatan hutan secara
lebih efisien, yang ditunjukkan oleh peningkatan produktivitas pemanenan hutan. 3. Peningkatan produktivitas pemanenan hutan memungkinkan kenaikkan PNBP dapat direalisasikan tanpa kenaikkan dan bahkan penurunan tarif PSDH dan DR. Dengan insentif penurunan tarif PSDH dan DR masing-masing 3,10% dan pengaruhnya produksi kayu bulat dapat meningkat 11%, maka PNBP-nya akan meningkat 7,56%.

Researcher :
Dr. Ir. Satria Astana M.Sc

Soenarno dan Wesman Endom


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2015
Download (hits : 44x)
56 Peranan Masyarakat Sekitar Hutan untuk Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim

Abstract :

Perubahan iklim merupakan masalah global yang bukan lagi sekedar akan dihadapi, tetapi harus dihadapi saat ini. Laporan Penilaian Ketiga IPCC (the IPCC’s Third Assessment Report atau TAR), menyimpulkan antara lain bahwa rata-rata suhu permukaan bumi secara global telah meningkat sebesar 0,2 ± 0,6 ° C selama abad ke-20. Berbagai skenario yang digunakan dalam proyeksi TAR menunjukkan bahwa rata-rata suhu udara permukaan global diperkirakan akan meningkat antara 1,4 dan 5,8 ° C pada tahun 2100 terhadap tahun 1990 dan tinggi permukaan laut global rata-rata naik antara 0,09 dan 0,88 m pada tahun 2100.

Researcher :
Ramawati S.Hut., M.Sc.

Tigor Butarbutar


Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2015
Download (hits : 43x)
57 Agroforestri di Daerah Rentan Kebakaran

Abstract :

Berkurang atau hilangnya ekosistem hutan rawa gambut untuk pengembangan tanaman lahan kering dalam skala masif telah menurunkan kualitas lingkungan dan merusak tata air sehingga mengganggu fungsi dan manfaat ekosistem rawa gambut diantaranya sebagai penyangga hidrologi areal sekelilingnya. Kanal-kanal besar untuk mengeluarkan log dan untuk mengeringkan rawa gambut telah mengalirkan air rawa gambut ke laut sehingga air tidak dapat menggenangi rawa gambut lagi baik di hulu maupun di hilir, akibatnya terjadi banjir pada musim hujan, serta kekeringan dan kebakaran pada musim kemarau. Untuk mengembalikannya perlu segera dilakukan upaya perbaikan tata air di ekosistem rawa gambut dengan melakukan penataaan kembali di unit kesatuan hidrologis dari ekosistem ini, dengan skala prioritas
dibagian kubah dan sekelilingnya dengan membangun sekat kanal, tali air, normalisasi kanal, dan membuat kantong air atau embung dengan maksud menahan laju kehilangan dan aliran air, menaikan ketinggian air di kanal, sehingga gambut yang tadinya kering menjadi lebih basah dan lembab di kirikanan kanal.

Researcher :
Dra Setiasih Irawanti M.Si

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2015
Download (hits : 54x)
58 Kepastian Pembiayaan dalam keberhasilan implementasi REDD+ di Indonesia

Abstract :

Prinsip national approach and subnational implementation dalam implementasi REDD+ dapat secara efektif diterapkan untuk mengurangi emisi apabila setiap stakeholder mampu menjaga komitmennya untuk melakukan upaya pengurangan emisi karbon. Bagi pengembang kegiatan REDD+ komitmen itu sendiri sangat tergantung pada bagaimana manajemen pengelolaan yang diterapkan mampu mengatasi ketidakpastian yang dihadapi di lapangan yang menggiring pada terjadinya penghentian komitmen atau risiko balik (ketidakpermanenan)
yang disebabkan oleh daya saing komoditi berbasis lahan di sekitar lokasi REDD+ yang tinggi. Daya saing itu sendiri dipengaruhi oleh biaya yang harus dikeluarkan oleh pengembang.

Researcher :
Dr. Raden Deden Djaenudin S.Si., M.Si.

Publisher : P3SEKPI
Type : Policy Brief
Year : 2015
Download (hits : 44x)
59 Making timber plantations an attractive business for smallholders

Abstract :

Smallholder timber plantations exist in various forms in Indonesia. Farmers may plant trees for timber on their private lands which is known as hutan rakyat, or on state forest lands under various schemes, such as hutan kemasyarakatan (HKm), hutan tanaman rakyat (HTR) or hutan desa. Despite different schemes and rules, farmers are the main actors in smallholder timber plantation businesses. Farmers’ decisions on investing resources and managing their timber plantations are important in determining the benefits they realize.

Researcher :
Dr Tuti Herawati S.Hut, M.Si

Dede Rohadi, Christine Padoch and Digby Race


Publisher : CIFOR
Type : Policy Brief
Year : 2015
Download (hits : x)
60 Peningkatan Peran Sektor Kehutanan dalam ASEAN Economic Community 2015

Abstract :
Researcher :
Dr. Raden Deden Djaenudin S.Si., M.Si.

Kirsfianti L. Ginoga


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2014
Download (hits : 48x)
61 Mengapa dan Bagaimana Revitalisasi Pelayanan Litbang Berbasis IT?

Abstract :

Permenhut No. 40/Menhut-II/2010 dan Permenhut No. P.7/Menhut-II/2011 memandatkan Pusat Litbang Perubahan Iklim dan Kebijakan (Puspijak) untuk melaksanakan penelitian dan pengembangan perubahan iklim dan kebijakan dan pelayanan informasi publik. PP No. 12 Tahun 2010 dan UU No 18 tahun 2002 menambahkan pentingnya nilai tambah ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), dan inovasi kebijakan untuk mempercepat target pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan, dan peningkatan kemampuan pengembangan kebijakan berbasis riset. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, RPJMN 2015-19 (Hernowo, 2014) menekankan pentingnya iptek dan inovasi dalam rangka mendukung operasionalisasi dan penguatan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). PP 12 Tahun 2014 dan Permenhut 92/Menhut-II/2014 tentang Jenis dan Tarif Penerimaan bukan Pajak Kementerian, menambah motivasi untuk melakukan revitilasisasi pelayanan berbasis IT.

Researcher :
Dr Kirsfianti L Ginoga M.Sc

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2014
Download (hits : 31x)
62 Kebijakan Land Swap Mungkinkah Dilakukan?

Abstract :

Wacana land swap mengemuka setelah dokumen Stranas REDD+ menjadikan kegiatan tersebut sebagai langkah strategis untuk implementasi REDD+. Di tengah gencarnya upaya beberapa pemda untuk mengkonversi hutan di wilayahnya, wacana tersebut diusung oleh para penggiat REDD+. Landasan hukum yang ada belum mengatur tukar-menukar hutan untuk tujuan kehutanan (konservasi), selama ini peraturan yang ada hanya mengatur tukar-menukar untuk tujuan penggunaan kawasan hutan (tujuan di luar sektor kehutanan). Implementasi land swap akan menimbulkan fragmentasi lahan yang berdampak sosial, ekonomi, politik dan lingkungan. Urutan prioritas kebijakan yang disarankan untuk menyikapi wacana land swap adalah: Prioritas I : Menggunakan instrumen kebijakan Payment Environmental Services (PES) untuk lahan APL yang berhutan (mengandung high conservation value tinggi (hutan primer dan lahan gambut). Prioritas II : Land swap dilakukan melalui review RTRWP. Prioritas III : Perbaikan tata kelola lahan hutan yang terdegradasi. Prioritas IV : Pembelian lahan APL oleh pemerintah. Prioritas V : Melakukan tukar-menukar kawasan hutan terdegradasi dengan APL berhutan. Areal yang paling mungkin dilakukan land swap adalah mempertahankan hutan primer di hutan produksi konversi.

Researcher :
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si
Drs Lukas Rumboko Wibowo M.Sc. Phd
Yanto Rochmayanto S.Hut, M.Si
R.A. Kushartati Budiningsih S.Hut., M.Si.
Fentie Jullianti Salaka M.Si.
M. Zahrul Muttaqin S.Hut.,M.M.,M.F,PhD.

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2014
Download (hits : 38x)
63 Merubah Pola Pikir Petani Hutan Rakyat Melalui Program Master TreeGrower (MTG)

Abstract :

Petani hutan rakyat memiliki keterbatasan pengetahuan tentang bibit unggul, teknik mengatasi serangan hama-penyakit, teknik pemangkasan dan penjarangan yang benar, melakukan grading kayu, serta cara menghitung volume dan nilai kayu. Nilai tambah dari pengusahaan kayu yang diterima petani tidak berbeda nyata dengan yang diterima oleh pedagang, padahal waktu yang diperlukan petani 6 tahun untuk sengon dan 20-30 tahun untuk jati; sedangkan pedagang hanya beberapa minggu saja. Terkait hal tersebut community based commercial forestry (CBCF) mendorong peningkatan pengetahuan para penyuluh kehutanan dan petani melalui program Master TreeGrower (MTG) yang menghubungkan petani dengan pasar kayu. Melalui program tersebut diharapkan dapat merubah cara berpikir petani menjadi lebih mengenal pasar kayu, menumbuhkan minat untuk menghasilkan kualitas kayu sesuai permintaan pasar dengan cara mengelola tanaman kayu dengan benar, dan melatih cara mengukur volume pohon agar mendapat harga jual yang pantas, sehingga akan merubah paradigma dari manajemen hutan yang pasif (tanam-tinggal-panen) menjadi lebih aktif (tanam-pelihara-panen).

Researcher :
Dra Setiasih Irawanti M.Si
Aneka Prawesti Suka S.Sos., M.SE, M.A.

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2014
Download (hits : 47x)
64 Implikasi Kebijakan Kenaikan DR dan PSDH terhadap Laba Pengusaha Hutan Alam dan PNBP Sektor Kehutanan

Abstract :

1. Biaya kewajiban kepada negara (DR, PSDH, PBB) berada di antara biaya produksi kayu bulat dan biaya sarpras. 2. Pengaruh kenaikan PSDH terhadap laba pengusahaan hutan alam lebih sensitif dibanding pengaruh kenaikan DR. 3. Harga aktual kayu bulat dari hutan alam bukan di gerbang TPn tetapi umumnya di gerbang TPK (logpond), pelabuhan atau lokasi industri.

Researcher :
Dr. Ir. Satria Astana M.Sc

Soenarno, dan OK Karyono


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2014
Download (hits : 42x)
65 Kebijakan Pembangunan HTI di Indonesia Salahkah?

Abstract :

1. Mengklasifikasikan permasalahan yang ada terkait implementasi pembangunan Hutan Tanaman Industri(HTI) sebagai dasar untuk melakukan evaluasi kegiatan pembangunan HTI. 2. Membangun industri primer untuk membantu pemasaran kayu dari HTI. 3. Adanya sinergitas dan/atau sinkronisasi peraturan antar sektor, antara pusat dan daerah terkait pembangunan HTI dan kehutanan secara umum. 4. Melakukan tata batas wilayah secepatnya. 5. Kejelasan serta kepastian hak adat atas lahan dan hukum adat perlu diupayakan untuk lebih dipertegas dan diformalkan oleh pemerintah sehingga efektivitas dalam pengelolaannya bisa lebih optimal.
6. PP 71 tahun 2014 tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut agar ditinjau kembali. Lokasi IUPHHK-HTI di Indonesia sebagian besar berada pada lahan gambut sehingga aturan tersebut menjadi diinsentif pada perkembangan pembangunan HTI di Indonesia. 7. Terkait dengan P 39/2013 tentang kemitraan, diharapkan pola ini jangan sampai melegitimasi dan melegalkan perambah agar tidak berlarut-larut. Usulan agar tanaman pokok HTI adalah karet yang dapat dikelola dengan pola kemitraan INTI-PLASMA, kiranya perlu dipertimbangkan.

Researcher :
Drs Epi Syahadat M.Si
Dra Setiasih Irawanti M.Si

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2014
Download (hits : 47x)
66 Pengarus-utamaan biaya adaptasi terhadap Perubahan Iklim DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN

Abstract :

1. Tindakan adaptasi menurunkan tingkat kerugian akibat variabilitas iklim dan cuaca ekstrim.
2. Pengarus-utamaan biaya adaptasi dalam perencanaan pembangunan nasional maupun sub nasional merupakan strategi tepat bagi perlindungan sosial, ekosistem, dan ekonomi masyarakat serta mendukung prinsip efisiensi alokasi anggaran Negara/daerah.

Researcher :
Yanto Rochmayanto S.Hut, M.Si
Dr. Ir. Niken Sakuntaladewi M.Sc
Yanto Rochmayanto S.Hut, M.Si

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2014
Download (hits : 39x)
67 Bagaimana Menyikapi Ketidakpastian Pasar Karbon UNTUK REDD+ DI INDONESIA?

Abstract :

Implementasi REDD+ membutuhkan kepastian pembiayaan jangka panjang. Pembiayaan jangka panjang akan terbentuk jika terdapat kepastian dalam pasar karbon dari implementasi REDD+. Pasar karbon dipercaya sebagai mekanisme yang efektif dan efisien dalam menyediakan sumber pembiayaan tersebut. Dalam pasar karbon, harga menjadi penentu dalam menghasilkan kredit karbon; semakin tinggi harga karbon, semakin banyak kredit karbon yang dihasilkan. Indonesia dengan luas hutan yang besar mampu untuk menghasilkan kredit karbon yang besar pula. Meskipun demikian terdapat ketidakpastian dalam pasar karbon dari REDD+, yaitu adanya risiko kebocoran dan ketidakpermanenan.

Researcher :
Dr. Raden Deden Djaenudin S.Si., M.Si.

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2014
Download (hits : 52x)
68 Database FE/FS Berbasis Web

Abstract :

Penghitungan emisi dari sektor kehutanan memerlukan data aktivitas berupa perubahan lahan dan faktor emisi/serapan (selanjutnya disingkat FE dan FS). Saat ini data FE untuk berbagai ekoregion di Indonesia masih terbatas padahal data FE tingkat lokal sangat diperlukan untuk menjamin tingkat keakuratan perhitungan karbon hutan. Untuk itu, sejumlah PSP untuk pengukuran biomassa yang tersebar di 10 provinsi telah dibangun. Hasil pengukuran biomassa yang mencakup 5 pool karbon dengan mengikuti Standar Nasional Indonesia SNI 7724-2011 merupakan data faktor emisi/serapan. Seluruh data yang telah diperoleh terakomodir di dalam suatu aplikasi berbasis web

Researcher :
Mega Lugina S.Hut., M.For.Sc.
Dr Kirsfianti L Ginoga M.Sc
Galih Kartika Sari S.Hut. MAP.

Bayu Subekti


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2014
Download (hits : 41x)
69 Meningkatkan Rantai Perdagangan Kehutanan untuk Mengembangkan Bisnis Hutan Rakyat

Abstract :

Dewasa ini hutan rakyat telah berhasil mendorong pertumbuhan perdagangan kayu dan industri pengolahan kayu di daerah pedesaan, kabupaten, provinsi dan antar provinsi, memenuhi permintaan petani akan kayu bangunan, serta membuka peluang bisnis untuk memanfaatkan lahan masyarakat. Namun para petani, penyuluh, lembaga swadaya masyarakat (LSM) pendamping petani masih menghadapi berbagai keterbatasan. Terkait hal tersebut, pengembangan bisnis hutan rakyat memerlukan kondisi pendukung berupa peran pemerintah melalui pembangunan pedesaan dan penyuluhan, peran industri kehutanan yang kadangkala dapat menggantikan peran pemerintah melalui Corporate Social Responsibility (CSR) dan Community Development, serta reformasi pasar melalui keterbukaan informasi pasar.

Researcher :
Dra Setiasih Irawanti M.Si
Nunung Parlinah S.Hut, M.Si
Aneka Prawesti Suka S.Sos., M.SE, M.A.

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2014
Download (hits : 31x)
70 Belajar Inovasi dari Thailand

Abstract :

Dalam banyak hal, Indonesia sesungguhnya tidak banyak tertinggal dari Thailand. Apa yang terjadi di Thailand pada saat bersamaan sudah dilakukan secara efektif di Indonesia. Sebagai contoh, Pemerintah Kota Pattaya memiliki layanan Call Center 1337 yang memberi informasi 24 jam tentang apapun yang ada dan terjadi di kota pantai di timur Thailand itu. Masyarakat juga bisa menyampaikan saran, kritik, atau keluhan melalui jalur bebas pulsa tersebut. Selain mendekatkan birokrasi kepada masyarakat dan menciptakan pelayanan secara non-stop, model layanan seperti ini juga memperkuat akuntabilitas aparat di mata publiknya. Tapi jangan berdecak kagum dulu, karena layanan seprti ini juga sudah banyak diterapkan di Indonesia, misalnya PT. KAI yang memiliki Call Center 121, atau UPIK (Unit Pelayanan Informasi dan Keluhan) Kota Yogyakarta yang memiliki SMS Center 08122780001. Apapun yang membuat anda jengkel saat berada di Yogya, kirimkan saja keluhan anda melalui nomor tersebut, dan anda akan segera mendapatkan respon dari pihak berwenang setempat (baca artikel sebelumnya berjudul “Berenang di Kolam Inovasi”).

Researcher :

Tri Widodo Utomo


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2014
Download (hits : 43x)
71 Dampak Putusan MK No. 35/PUU-X/2012 Terhadap Pengurusan dan Pengelolaan Hutan

Abstract :

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan telah mengalami 2 kali pertandingan di lapangan Makamah Konstitusi (MK), yaitu melalui putusan MK No. 45/PUU-IX/2011 (MK45), tanggal 22 Juli 2011 terkait proses penentuan Kawasan Hutan Indonesia dan Putusan MK No. 35/PUU-X/2012 (MK35), tanggal 16 Mei 2013 terkait dengan penegasan bahwa kawasan hutan adat bukan hutan negara

Researcher :
Dr. Ir Subarudi M.Wood.Sc

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 48x)
72 Bagaimana Pandangan Para Aktor yang Terkait dengan Implementasi REDD+ di Daerah

Abstract :

Sebagai sebuah inisiatif global yang terkait dengan isu lokal, REDD+ memerlukan tata kelola (governance) baik di tataran internasional, nasional maupun sub-nasional (daerah). Tata kelola ini merupakan seperangkat kesepakatan yang mengatur interaksi para pihak dalam mengelola sumberdaya dan untuk menentukan kebijakan-kebijakan pengelolaan sumberdaya tersebut. Terkait dengan REDD+ yang akan
diimplementasikan di daerah, peran aktor REDD+ di daerah menjadi isu penting. Mereka akan berkontribusi dalam pencapaian tujuan REDD+. Policy Brief ini menjelaskan bagaimana para aktor di daerah terkait REDD+ memahami dan menyikapi REDD+ sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan perumusan kebijakan terkait dengan implementasi REDD+ di tingkat daerah.

Researcher :
R.A. Kushartati Budiningsih S.Hut., M.Si.
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si

Gamin


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : x)
73 Pelaksanaan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Sektor Kehutanan (Catatan Awal)

Abstract :

Inventarisasi gas rumah kaca (GRK) merupakan kegiatan untuk memperoleh data dan informasi mengenai tingkat, status, dan kecenderungan perubahan emisi GRK secara berkala dari berbagai sumber emisi (source) dan penyerapannya (sink), termasuk simpanan karbon (carbon stock). Inventarisasi GRK bertujuan untuk memantau (i) tingkat dan status emisi GRK, (ii) merancang dan mengevaluasi kegiatan mitigasi perubahan iklim, serta (iii) menyusun laporan status emisi GRK nasional untuk United Nations Framework on Climate Change (UNFCCC). Indonesia sebagai nonAnnex I yang telah meratifikasi Protokol
Kyoto mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan nasional mengenai status emisi/serapan di tingkat nasional dan kemajuan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan untuk mendukung terwujudnya Konvensi Perubahan Iklim. Dalam Perpres No. 71/2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi GRK Nasional, diatur bahwa setiap kementerian berkewajiban untuk melakukan kegiatan inventarisasi GRK. Menteri berkewajiban memberikan pembinaan dalam hal inventarisasi GRK kepada gubernur dan gubernur memberikan pembinaan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota.

Researcher :
Mega Lugina S.Hut., M.For.Sc.
Ir Ari Wibowo M.Sc

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 42x)
74 Sejauh manakah Tupoksi Kementerian Kehutanan mendukung pembangunan KPH

Abstract :

Salah satu sasaran strategis yang akan dicapai dalam pelaksanaan Renstra Tahun 2010-2014 adalah wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) ditetapkan di setiap provinsi dan beroperasinya 120 KPH (20% wilayah KPH yang telah ditetapkan). Progres pembangunan KPH saat ini belum menunjukkan kemajuan yang signifikan. Beberapa kendala yang dihadapi antara lain: kurangnya komitmen dan pemahaman pemerintah kabupaten, rendahnya kapabilitas SDM di daerah, kurang jelasnya tata hubungan kerja antar institusi yang terlibat dalam pengurusan hutan serta ketidakjelasan tupoksi dalam pembangunan KPH di tingkat Kementerian Kehutanan sendiri.

Researcher :
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si
Fentie Jullianti Salaka M.Si.
Kuncoro Ariawan S.Hut
Dr. Ir Hariyatno Dwi Prabowo M.Sc

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 45x)
75 Sudahkah tugas pokok dan fungsi Kementerian Kehutanan selaras dengan kebijakan desentralisasi pengelolaan hutan produksi

Abstract :

Hutan produksi merupakan kawasan hutan yang berfungsi untuk kepentingan produksi hasil hutan dalam rangka memperoleh manfaat ekonomi yang sebesar-besarnya, dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan dan keberadaan kawasan hutan produksi itu sendiri. Menurut Ditjen Bina Usaha Kehutanan (2011), luas kawasan hutan produksi di seluruh Indonesia 81.810.489,69 Ha (60 % dari total luas kawasan hutan), merupakan potensi yang amat besar yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan nasional/lokal,
peningkatan kesejahteraan masyarakat dan berkontribusi untuk menurunkan emisi di Indonesia. Namun sangat disayangkan kawasan hutan produksi tersebut mempunyai rata-rata angka deforestasi tertinggi dibanding fungsi kawasan hutan yang lain, yaitu sebesar 180,4 ribu Ha/tahun pada periode tahun 2009 – 2011 (Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan, 2012). Tingginya angka deforestasi tersebut mengindikasikan pengelolaan hutan produksi yang ada selama ini belum efektif.

Researcher :
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si
Kuncoro Ariawan S.Hut
Fentie Jullianti Salaka M.Si.
Dr. Ir Hariyatno Dwi Prabowo M.Sc

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 43x)
76 Melestarikan Lanskap Hutan Sumbawa melalui Penguatan Kelompok Tani Madu Hutan

Abstract :

Nama Sumbawa identik dengan madu hutan, cairan penjaga kesehatan yang berkhasiat tinggi ini dihasilkan dari belantara rimba yang saat ini terancam kelestariannya. Madu hutan dihasilkan dari sejenis pohon lokal yang dalam bahasa setempat dikenal dengan sebutanboan, tempat bersarangnya Apis dorsata yang menyediakan nektar bagi lebah hutan. Pohon boantersebar di lereng pegunungan dan di lokasi tertentu ditemukan di lembah, sepanjang sungai dan anak sungai atau riparian.Bersama dengan antara lain kelompok pohon asam, kemiri serta pulai dan kesambi, pohon boanmembentuk lanskap hutan, yangmenutupi kawasan lindungdi Kabupaten Sumbawa seluas 45%. Keberadaan lanskap hutan diperlukan untuk menjaga sumber mata air yang digunakan untuk mengairi sawah, memenuhi kebutuhan rumah tangga dan industri, serta
menjamin kelangsungan usaha madu hutan bagi penduduk setempat.

Researcher :
Dr. Ir Retno Maryani M.Sc
Iis Alviya S.P., M.S.E.
Virni Budi Arifanti S.Hut., M.Sc. PhD
Mimi Salminah S.Hut., M.For.Sc.

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 43x)
77 Mencapai Target Nasional Penurunan Gas Rumah Kaca (GRK) Sektor Kehutanan

Abstract :

Peraturan Presiden No. 61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Penurunan Emisi GRK merupakan penjabaran dari komitment Pemerintah Republik Indonesia untuk mengurangi emisi GRK sebesar 26 % dengan upaya sendiri, dan sebesar 41 % dengan dukungan internasional pada tahun 2020. Pada lampiran Perpres RAN GRK tercantum aksi mitigasi dari lima bidang berbasis lahan, termasuk bidang kehutanan dan lahan gambut yang
diharapkan dapat menurunkan emisi sebesar 87,6 % (dari target 26 %) dan 87,4 % (dari target 41 %). Sehingga tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa komitmen Presiden akan tercapai apabila Renstra Kementerian Kehutanan tercapai. Permasalahan yang dihadapi, saat ini adalah belum ada perhitungan bagaimana setiap program dan kegiatan di setiap bidang dapat memberikan indikasi untuk berkontribusi terhadap penurunan emisi.

Researcher :
Dr Kirsfianti L Ginoga M.Sc
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si
Dr. Raden Deden Djaenudin S.Si., M.Si.
Fentie Jullianti Salaka M.Si.
Mega Lugina S.Hut., M.For.Sc.

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 42x)
78 Adaptasi Masyarakat Pesisir: Mengelola Ketidakpastian Dampak Perubahan Iklim

Abstract :

1. Dampak perubahan iklim sudah dirasakan masyarakat pesisir dan menjadikan mereka sadar bahwa kehidupan mereka makin tidak aman. 2. Masyarakat secara individu atau berkelompok sudah melakukan adaptasi untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Adaptasi yang dilakukan seringkali dipengaruhi oleh program pembangunan pemerintah yang belum sepenuhnya mempertimbangkan perubahan iklim dan nilai-nilai sosial yang telah mengakar pada pengalaman nyata kehidupan mereka.
3. Adanya keterbatasan informasi terhadap kondisi iklim menjadikan tindakan adaptasi masyarakat tidak selalu dapat mengatasi dampak negative perubahan iklim. 4. Adaptasi reaktif sudah dilakukan, tapi dibutuhkan adaptasi yang antisipatif, proaktif dan terencana untuk menciptakan masyarakat yang memiliki kapasitas adaptif. 5. Adaptasi berbasis ekosistem terbukti mampu berfungsi sebagai buffer dan menjadikan masyarakat resilience terhadap ganasnya dampak perubahan iklim.

Researcher :

Tim Peneliti Adaptasi PUSPIJAK dan BPTK PENGELOLAAN DAS Solo


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 41x)
79 Menuju Komersialisasi Kayu Hutan Rakyat: Hambatan, Peluang dan Saran Kebijakan

Abstract :

Di banyak negara tropis, pertumbuhan penduduk menyebabkan naiknya tekanan terhadap lahan dan menurunnya areal hutan. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap menurunnya area hutan adalah persaingan lahan untuk kegiatan pertanian pangan dan kehutanan, pertanian mampu memberi hasil tahunan sedangkan kehutanan memberi hasil lebih lambat, hasil pohon tidak mampu memenuhi kebutuhan mendesak penduduk setempat, manfaat hutan seringkali tersebar di bagian luar area seperti perlindungan atas terjaganya kondisi hidrologi untuk wilayah hilirnya, dan kurangnya perhatian untuk memperbaiki manajemen dan teknik budidaya pohon yang sangat penting bagi petani (Wiersum, K.F., 1988).

Researcher :
Dra Setiasih Irawanti M.Si

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 39x)
80 Opsi Penentuan Tingkat Emisi Referensi (REL) Gas Rumah Kaca Sektor Kehutanan

Abstract :

Sektor Kehutanan memainkan peranan penting dalam siklus karbon. Di tingkat global, kontribusi emisi sektor kehutanan yang termasuk dalam Land Use, Land Use Change and Forestry (LULUCF) sebesar 18%, sedangkan di tingkat nasional mencapai 48 %. Indonesia telah menetapkan target penurunan emisi sebesar 26% tahun 2020 yang didasarkan kepada penurunan dari BAU (Business As Usual). Berbagai kegiatan mitigasi juga dilakukan untuk menurunkan emisi termasuk kegiatan REDD+ (Reduce Emission from Deforestation and Degradation+). Untuk kepentingan monitoring penurunan emisi termasuk dari kegiatan REDD+ diperlukan tingkat referensi emisi sebagai dasar guna mengetahui apakah kegiatan mitigasi yang
dilakukan sudah mencapai sasaran yang diharapkan. Dalam mekanisme REDD+, REL sangat penting disusun karena hal ini akan menunjukkan besar emisi yang akan terjadi apabila kegiatan REDD+ tidak dilakukan (sebagai BAU atau Baseline) dan besarnya emisi yang akan diturunkan apabila REDD+ dilaksanakan. Meskipun banyak studi sudah dilakukan, sampai saat ini REL di tingkat nasional masih belum ditentukan. PolicyBrief ini memberikan informasi sebagai masukan untuk penentuan REL ditingkat nasional dan daerah guna mendukung upaya penuruan emisi yang dapat diukur, dilaporkan dan diverifikasi (MRV).

Researcher :
Ir Ari Wibowo M.Sc
Virni Budi Arifanti S.Hut., M.Sc. PhD
Yanto Rochmayanto S.Hut, M.Si
Nunung Parlinah S.Hut, M.Si
Mega Lugina S.Hut., M.For.Sc.

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 48x)
81 Apakah Organisasi Belajar dapat meningkatkan Kinerja Program Kehutanan?

Abstract :

“Organisasi belajar (Learning Organization) adalah organisasi dimana para anggotanya terus menerus meningkatkan kapasitasnya untuk meraih hasil yang diinginkannya, aspirasi kolektif diberi ruang kebebasan, dan para anggotanya terus-menerus belajar semua hal secara bersama-sama” (Senge, 1990). Pembentukan organisasi belajar di unit kerja diharapkan meningkatkan kapasitas organisasi melaksanakan program jangka panjang seperti yang ada di lingkungan kementerian”.

Researcher :
Dr. Ir Hariyatno Dwi Prabowo M.Sc

Mulyaningrum, Eno Suwarno


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 55x)
82 Perkembangan Hutan Kota ditinjau dari Aspek Kebijakan, Aspek Zonasi, dan Aspek Jenis Pohon

Abstract :

Berbagai studi menyebutkan bahwa perubahan iklim menyebabkan negara berkembang paling menderita karena tidak mampu membangun struktur untuk beradaptasi (IPCC 2006; Stern 2007), sehingga diperlukan upaya nyata untuk segera mempersiapkan diri dalam mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi. Ekosistem pantai dan daratan yang diharapkan dapat meminimalisasi kerusakan ternyata tidak mampu mengantisipasi resiko yang terjadi, karena kondisinya yang tidak normal. Wilayah perkotaan di Indonesia, terutama kotakota pantai seperti Jakarta, Surabaya, Semarang dan Makasar, dicirikan oleh tiga kriteria yaitu: (a) terdegradasinya wilayah daratan dalam bentuk zona (region) wilayah “intrusi air laut”; wilayah “pengendapan” dan wilayah “kikisan”; (b) meningkatnya kutub-kutub panas kota, dan (c) semakin terdesaknya kawasan hijau akibat lajunya pertumbuhan wilayah perkotaan (Samsoedin dan Waryono 2010).
Sejak

Researcher :
Drs Epi Syahadat M.Si

Ismayadi Samsoedin


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 47x)
83 Sistem Verifikasi Legalitas Kayu vs Lacey Act: Peluang dan Tantangan

Abstract :

Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Kehutanan mengeluarkan kebijakan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Sistem ini bertujuan untuk menciptakan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL). Tujuannya juga untuk memperbaiki penerapan tata kelola kehutanan, serta pemberantasan penebangan liar dan perdagangannya (Permenhut No. P.38/2009). SVLK merupakan respon terhadap beberapa aturan di beberapa negara importir yang melarang perdagangan kayu ilegal, misalnya Uni Eropa dengan EUTR dan Amerika Serikat dengan Lacey Act (Peraturan ini mengacu pada kebijakan Pemerintah Amerika Serikat untuk mencegah peredaran produk kayu Illegal). Pada tahun 2009, SVLK mulai diberlakukan dengan disahkannya Permenhut No. P.38/Menhut-II/2009.
Dengan itu diharapkan kayu dan produk kayu Indonesia yang diekspor tidak memenuhi kesulitan di luar negeri.

Researcher :
Dr Magdalena -
Andri Setiadi Kurniawan S.E.
Ir Rachman Effendi M.Sc

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 51x)
84 Sumur resapan salah satu teknologi yang paling memungkinkan dalam menanggulangi banjir di DAS Ciliwung

Abstract :

Bencana banjir di Jakarta makin lama makin besar dengan dampak kerugian yang semakin meningkat. Hal ini terkait dengan penyebab banjir itu sendiri yang dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu tingginya pasokan air banjir dari daerah hulu dan tidak memadainya saluran drainase daerah hilir. Penanganan banjir di daerah hilir – memperbaiki saluran drainase – memang diperlukan untuk mengatasi banjir secara cepat. Namun penanganan daerah hulu sebetulnya lebih efektif khususnya dalam meningkatkan peresapan air. Meningkatkan peresapan air di daerah hulu berarti mengurangi pasokan air untuk daerah hilir. Untuk itu maka prinsip penanganan banjir di Jakarta adalah mempertahankan air selama mungkin di daerah hulu.

Researcher :

BPTK Teknologi Pengelolaan DAS Solo dan Tim Peneliti RPI Manajemen Lanskap Hutan


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2013
Download (hits : 36x)
85 Opsi Mekanisme Distribusi Insentif untuk REDD+

Abstract :

Usulan mengenai mekanisme distribusi insentif telah diajukan oleh berbagai pihak melalui pendekatan yang berbeda-beda. Salah satu perdebatan yang berkembang adalah apakah perdagangan karbon dianggap sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), pajak, atau penerimaan atas jasa lingkungan. Untuk itu perlu kajian lebih lanjut karena perbedaan penerimaan di atas akan berpengaruh terhadap mekanisme distribusi insentif. Pada policy brief ini, mekanisme distribusi REDD+ dibatasi pada mekanisme yang memungkinkan digunakan, dan tidak membahas mengenai besaran insentif yang akan diterima oleh masing-masing pihak dari kegiatan REDD+.

Researcher :
Indartik S.Si, M.SE
Nunung Parlinah S.Hut, M.Si

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2012
Download (hits : 39x)
86 REFLEKSI Kebijakan Desentralisasi Pengelolaan Hutan Produksi di Indonesia

Abstract :

Sejak kebijakan desentralisasi diberlakukan, terjadi perubahan tata kelola di sektor kehutanan, dimana sebagian besar pengelolaan hutan produksi menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten. Setelah sebelas tahun kebijakan desentralisasi berjalan, deforestasi di hutan produksi terus berlanjut. Untuk menuju tatakelola hutan yang baik kebijakan ini perlu dibenahi

Researcher :
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si
Fentie Jullianti Salaka M.Si.
Kuncoro Ariawan S.Hut
Dewi Ratna Kurnia Sari S.Hut, M.Si.
Andri Setiadi Kurniawan S.E.
Dr. Ir Hariyatno Dwi Prabowo M.Sc

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2012
Download (hits : 32x)
87 Strategi Penguatan Kelembagaan Hutan Kota

Abstract :

Pembangunan hutan kota sebagai bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) mengalami banyak hambatan dan kendala yang menuntut keseriusan para pihak untuk mencari upaya penyelesaiannya. Namun demikian, dalam perumusan suatu peraturan perundangan masih terlihat adanya tumpang tindih dan ketidak sinkronan antara satu peraturan perundang-undangan dengan peratura perundang-undangan lainnya. Disamping itu, kelembagaan pengelola hutan kota juga masih belum mampu mendukung terwujudnya pengelolaan hutan kota yang profesional dan kredibel

Researcher :
Dr. Ir Subarudi M.Wood.Sc

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2012
Download (hits : 43x)
88 Peningkatan Keberhasilan Obit dengan Agroforestri

Abstract :

Dukungan masyarakat terhadap program OBIT sangat ditentukan oleh upaya Kemenhut untuk meningkatkan kontribusi ekonomi OBIT khususnya tingkat pendapatan masyarakat sebagai pelaku utamanya. Model agroforestry dapat digunakan untuk mensukseskan OBIT. Selain itu diperlukan koordinasi dan sinergi dengan Kementerian terkait lainnya untuk mendukung kesuksesan gerakan OBIT

Researcher :
Dr. Ir Retno Maryani M.Sc
Mimi Salminah S.Hut., M.For.Sc.

Tigor Butarbutar


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2012
Download (hits : 56x)
89 Pengukuran Kelayakan Implementasi REDD+ di Indonesia

Abstract :

REDD+ merupakan mekanisme insentif terkait upaya penurunan emisi sektor kehutanan yang saat ini sedang dinegosiasikan di tingkat global. Dari sisi finansial, REDD+ dipandang sebagai alternatif pembiayaan baru bagi upaya-upaya pengelolaan sumberdaya hutan yang lestari. Karena hutan merupakan sumberdaya yang memiliki nilai tinggi, pengukuran kelayakan implementasi REDD+ di Indonesia sangat diperlukan. Parameter yang harus dipertimbangkan adalah kelayakan ekonomi, sosial, lingkungan dan kebijakan

Researcher :
Ir Ari Wibowo M.Sc

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2012
Download (hits : x)
90 Mengurai Kompatibilitas Rencana & Program Kehutanan

Abstract :

Ketidaksesuaian rencana dan program kehutanan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014 telah menyebabkan tidaktercapainya pelaksanaan berbagai kegiatan prioritas. Kegiatan prioritas yang sesuai dengan RPJMN dan visi dan misi Kementerian Kehutanan sebesar 57%, sedangkan 43% hanya terkait dengan program-program pendukung. Kedepan, program kerja yang kurang rasional harus diperbaiki sehingga dapat diimplementasikan (implementable dan perbaikan ketidaksesuaian hendaknya tidak hanya menyangkut program kerja, tetapi juga perlu revisi perencanaan (misalnya: revisi target RPJMN, Renstra, atau RKTN)

Researcher :

Dodik Ridho Nurrochmat, Tatang Triyana dan Meti Ekayani


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2012
Download (hits : 40x)
91 Rancangan Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL) untuk Melaksanakan REDD+ dI INDONESIA

Abstract :

Indonesia merupakan salah satu negara pendukung skema Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation and Improving Carbon Stock in Developing Countries (REDD+) yang saat ini tengah dinegosiasikan untuk menjadi skema internasional yang mengikat negara-negara yang menyetujuinya. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh pemerintah untuk dapat melaksanakan REDD+ seperti penerbitan strategi nasional REDD+, pembentukan satuan tugas REDD+ yang bertugas mempersiapkan kelembagaan REDD+, dan persiapan-persiapan teknis seperti penyusunan pedoman MRV, REL dan safeguards. Namun demikian, hingga saat ini mekanisme pembiayaan dan distribusi manfaat REDD+ masih belum dapat ditetapkan. Policy Brief ini memberikan satu alternatif dalam mekanisme distribusi manfaat REDD+ di tingkat masyarakat melalui Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM)

Researcher :
M. Zahrul Muttaqin S.Hut.,M.M.,M.F,PhD.

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2012
Download (hits : 43x)
92 Kajian Pengembangan Zonasi Fungsi Hutan Kota Daerah Pantai dan Daratan Tertutup

Abstract :

Terjadinya perubahan iklim yang menimbulkan bencana baru bagi manusia telah banyak dibuktikan secara ilmiah.. Fenomena alam seperti musim kemarau yang semakin panjang serta musim penghujan yang relatif pendek dengan intensitas hujan yang tinggi, bencana alam seperti tsunami, gempa bumi dan gunung meletus yang sulit diprediksi dan kerap terjadi. Oleh karenanya diperlukan upaya nyata untuk segera mempersiapkan diri dalam mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi. Ekosistem pantai dan daratan yang diharapkan dapat meminimalisasi kerusakan ternyata tidak mampu mengantisipasi resiko yang terjadi karena kondisinya yang tidak normal. Disamping itu, peningkatan jumlah penduduk dan tingginya aktivitas manusia di perkotaan menyebabkan kualitas lingkungan di kawasan perkotaan menurun. Wilayah perkotaan di Indonesia,
terutama kota-kota pantai seperti Jakarta, Surabaya, Semarang dan Makasar, dicirikan oleh tiga kriteria yaitu: (a) terdegradasinya wilayah daratan dalam bentuk zona (region) wilayah “intrusi air laut”; wilayah “pengendapan” dan wilayah “kikisan”; (b) meningkatnya kutub-kutub panas kota, dan (c) semakin terdesaknya kawasan hijau akibat lajunya pertumbuhan wilayah perkotaan (Samsoedin dan Waryono 2010). Kondisi ini semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya penataan kawasan/hutan kota/Ruang Terbuka Hijau sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas lingkungan di kota-kota di Indonesia. Berbagai propinsi memprioritaskan pembangunan RTH sebagai salah satu program pembangunan hutan kota. Pembangunan hutan kota perlu memperhatikan zonasi fungsi hutan kota daerah pantai dan daerah tertutup dengan vegetasi yang sesuai untuk peruntukan zonasi dimaksud.

Researcher :

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2012
Download (hits : 56x)
93 Hutan Rakyat di Masa Datang: Ketidakseimbangan Supply dan Demand

Abstract :

Permintaan kebutuhan kayu berasal dari tiga sumber yaitu: a) permintaan pasar lokal, b) permintaan industri menengah yang produknya untuk scope yang lebih luas dan berorientasi ekspor, dan c) industri besar padat modal. Untuk kebutuhan dalam negeri yang dikonsumsi masyarakat berasal dari beberapa sumber yakni hutan produksi baik dari hutan alam maupun dari hutan tanaman, hutan/kebun masyarakat dan dari sumber-sumber yang tidak jelas asal-usulnya. Berdasarkan Data Eksekutif dan Strategis tahun 2009 dan Statistik Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan disebutkan bahwa semua produksi kayu bulat yang berasal dari hutan
produksi (berizin) terserap ke industri pengolahan kayu yang berorientasi pada eksport, bahkan terdapat kekurangan lebih dari 39 ribu m3. Jumlah kekurangan ini akan lebih besar lagi jika ditambahkan kebutuhan industri dengan kapasitas dibawah 6.000 m3. Dengan demikian kebutuhan lokal/ domestik untuk masyarakat hampir sebagian besar terpenuhi dari hutan masyarakat/kebun masyarakat dan sumber yang tidak jelas/illegal. Policy brief ini difokuskan pada kajian di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang didasarkan pada data kebutuhan kayu dan pemenuhannya khususnya kebutuhan domestik/perumahan tahun 2008-2010.

Researcher :

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2012
Download (hits : 45x)
94 Strategi Keberhasilan REDD+: Pendekatan Sosial Ekonomi dan Budaya

Abstract :

Masyarakat sekitar hutan menjadi aktor penting yang harus diperhitungkan karena aktivitas kehidupannya yang bersinggungan langsung dengan hutan. Keberadaan mereka tidak dapat diabaikan mengingat terdapat sekitar 2 juta KK dari 19.420 desa yang berada di dalam atau sekitar kawasan hutan yang tersebar di 32 provinsi (Ditjen Planologi, 2011). Ketergantungan masyarakat setempat terhadap hutan antara lain sebagai penyedia kayu bakar bagi rumah tangga, penyedia kayu untuk bangunan, penyedia rotan, madu, buah-buahan, tanaman obat, hewan buruan, dan berbagai hasil hutan lainnya. Ada pula sebagian masyarakat yang memanfaatkan hutan sebagai lahan garapan, selain penyeimbang ekosistem, situs budaya dan sejarah yang tidak bernilai. Dengan berbagai bentuk manfaat hutan tersebut, perlu dipikirkan suatu cara agar aktivitas masyarakat berkontribusi pada penyerapan dan penyimpanan karbon dengan mengakomodasi kebiasaan dan sosial budaya masyarakat yang positif.
Pemetaan dan informasi yang lengkap tentang aktivitas sosial ekonomi dan budaya masyarakat menjadi unsur penting dalam membangun social information safeguard sebagaimana diamanatkan dalam kesepakatan COP-16 di Cancun, Mexico tahun 2010. Melalui social information safeguard, berbagai kegiatan mitigasi termasuk juga REDD+ harus memasukkan pertimbangan informasi tentang potensi masyarakat, konsekuensi ekonomi dan sosial, termasuk spillover effect, alat, kebijakan, tindakan, dan metodologi yang diperlukan terkait dengan pelibatan masyarakat di sekitar lokasi kegiatan (Anonim, 2010a). Penyebarluasan informasi tentang REDD+ di kalangan masyarakat setempat masih sangat dibutuhkan untuk mewujudkan dukungan masyarakat secara bulat terhadap kegiatan REDD+ sesuai dengan prinsip Free, Prior and Informed Consent (FPIC).

Researcher :
Aneka Prawesti Suka S.Sos., M.SE, M.A.

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2012
Download (hits : 54x)
95 Jenis Pohon Potensial untuk Pengembangan Hutan Kota

Abstract :

HUTAN dan KOTA, adalah dua kutub isu yang selalu menggeliat di dalam fenomena pembangunan dewasa ini, karena hutan mempunyai ekspresi ke arah konservasi, sedangkan kota ke arah ekspansi. Keduanya ternyata merentangkan benang merah dalam pembangunan secara berkesinambungan, antara jawaban atas tuntutan dan tantangan ruang, terhadap waktu yang dihadapi (Samsoedin dan Waryono, 2010). Meningkatnya jumlah penduduk, serta bebanbeban pembangunan wilayah termasuk di dalamnya tumbuh berkembangnya pemukiman, industri dan pusat-pusat kegiatan kota, cenderung menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat perkotaan itu sendiri, akibat semakin meningkatnya lingkungan fisik kritis perkotaan. Wilayah perkotaan di Indonesia, terutama kota-kota pantai seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Ujung Pandang, dicirikan oleh tiga kriteria yaitu: (a) terdegradasinya wilayah daratan dalam bentuk zona (region) wilayah “intrusi air laut”; wilayah “pengendapan” dan wilayah “kikisan”; (b) meningkatnya spot-spot panas kota, dan (c) semakin terdesaknya kawasan
hijau akibat lajunya pertumbuhan wilayah perkotaan. Kesadaran Pemerintah terhadap Lingkungan Fisik Kritis (LFK) dan kecenderungannya, melalui berbagai upaya telah dilakukan sejak tahun 1980-an. Langkah awal yang dilakukan, antara lain, diefektifkannya peranan institusi sektor hijau (Dinas Teknis Pekerjaan Umum dan Kehutanan) untuk menangani secara langsung dengan membangun dan mengelola kawasan hijau binaan dalam wujud “hutan kota”. Niat tersebut muncul atas dasar pertimbangan (a) peran, fungsi dan jasa biologis pepohonan, yang terbukti dan mampu melerai serta mengendalikan berbagai bentuk pencemaran dan sumbersumber penyebabnya, karena komunitas tumbuhan hutan kota dapat berfungsi sebagai paru-paru kota, (b) keterbatasan aset Pemda dalam hal penguasaan terhadap tanah akibat semakin meningkatnya harga tanah, (c) meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan tumbuh berkembangnya wilayah industri (sumber cemaran lingkungan), serta (d) meningkatnya jumlah penduduk dan tumbuh berkembangnya wilayah pemukiman, yang cenderung mendambakan kenyamanan lingkungan hidupnya.

Researcher :

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2012
Download (hits : 53x)
96 Evaluasi Tarif Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) Kayu Hutan Alam

Abstract :

Hutan Produksi merupaka salah satu kawasan hutan di Indonesia yang selama ini dikelola untuk tujuan memproduksi kayu dan hasil hutan bukan kayu. Dari total hutan Indonesia seluas 136,88 juta ha maka kawasan hutan produksi menempati 30% atau 82.38 juta ha. Sejak diundangkannya penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri tahun 1974, pemanfaatan kawasan hutan produksi semakin intensif melalui pemberian konsesi atau ijin kepada pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Melalui PP No. 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Serta Pemanfaatan Hutan, pemanfaatan hutan telah diubah dengan Izin Usaha Pemungutan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam (IUPHHK-HA), Izin Usaha Pemungutan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Tanaman (IUPHHK-HT), dan Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu (IUPHH-BK). Dari kawasan hutan produksi seluas 82.38 ha tersebut diatas, pemanfaatan dalam bentuk IUPHHK sampai saat ini (2011) telah mencapai 35,38 ha atau sekitar 49,93%.

Researcher :
Dr. Ir. Satria Astana M.Sc

Sulistyo A. Siran


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2011
Download (hits : 43x)
97 Transfer Fiskal antara Pemerintah Pusat-Daerah untuk Mekanisme Distribusi Manfaat REDD+

Abstract :

Seiring dengan proses desentralisasi, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan pendapatan daerah guna membiayai pelayanan publik di tingkat lokal. Eksploitasi sumber daya hutan dan perubahan lahan, yang dilaksanakan secara legal, saat ini mendatangkan manfaat bagi pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah, berupa pajak dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Pemerintah daerah khususnya memperoleh manfaat dari kegiatan produktif di kawasan hutan dalam bentuk alokasi dana bagi hasil dari sumber daya alam dan pajak serta pendapatan sah lainnya. Skema Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation-plus (REDD+) dapat membatasi kegiatan perubahan lahan
dan ekploitasi hutan, yang tidak lagi dapat dilaksanakan di kawasan hutan konversi (serta hutan produksi). Keterbatasan yang disebabkan oleh skema REDD+ akan mengurangi kapasitas fiskal pemerintah daerah akibat hilangnya pendapatan yang tadinya dapat diperoleh dari kegiatan produktif di kawasan hutan. Hal ini tentunya akan membatasi kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan pelayanan publik bagi masyarakat lokal. Oleh karenanya, insentif finansial menjadi penting untuk merekonsiliasi biaya peluang yang harus ditanggung oleh pemerintah daerah serta masyarakat lokal dengan manfaat yang dihasilkan oleh skema REDD+, yang mana dapat dinikmati oleh masyarakat di tingkat nasional dan global

Researcher :

Publisher : Puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2011
Download (hits : 73x)
98 Pembangunan Hutan Kota, Hanya Slogan Belaka: Studi Kasus di Jabodetabek

Abstract :

Sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 26 Tahun 2006 tentang Penataan Ruang pada Pasal 29, Ayat 1-3 dinyatakan bahwa: (1) ruang terbuka hijau (RTH) terdiri dari RTH publik dan RTH private; (2) proporsi RTH pada wilayah kota paling sedikit 30 % dari luas wilayah kota; (3) proporsi RTH publik di wilayah kota paling sedikit 20 % dari luas wilayah kota. Berpedoman pada UU No. 26/2006 terkait penyediaan RTH dan hutan kota tersebut, seluruh pemerintah daerah provinsi dan kabupaten diwajibkan untuk dapat memenuhi target luas RTH dan hutan kota di wilayahnya masing-masing. Sebagai contoh Pemerintah DKI Jakarta, Pemerintah Daerah-Daerah Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi yang dikenal dengan sebutan Jabodetabek telah berupaya mewujudkan target RTH dan hutan kota tersebut di wilayah pemerintahannya masing-masing. Ada keterkaitan yang erat antara keberadaan RTH dan hutan kota dengan pengelolaan tata air dan sistem drainase yang pada akhirnya berdampak pada peristiwa banjir di suatu daerah. Menurut
Daroyni (2010), saat ini penataan air yang terkait dengan RTH dan hutan kota di Jabodetabek masih menjadi persoalan (tidak beraturan) dan kurang mendapat perhatian karena penataan kota-kota yang lebih berpihak pada kepentingan ekonomi. Sebagai contoh, dari 226 situ penampung air hujan di Jabodetabek, hanya 33 situ yang berfungsi baik dan sisanya rusak atau bahkan hilang karena berubah fungsi karena direklamasi.

Researcher :
Dr. Ir Subarudi M.Wood.Sc

Ismayadi Samsoedin


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2011
Download (hits : 44x)
99 Kebijakan Pemanfaatan Hutan Lindung di Masa Desentralisasi

Abstract :

Setelah lebih dari sepuluh tahun hutan lindung didesentralisasikan pengelolaannya oleh pemerintah pusat ke pemerintah kabupaten, deforestasi masih terus terjadi. Menurut hasil penghitungan Pusat Inventarisasi dan Perpetaan Hutan pada Ditjen Planologi Kehutanan (2010), luas deforestasi kawasan hutan lindung pada periode tahun 2003 – 2006 adalah 391.000 Ha, dengan angka deforestasi tahunan pada kawasan ini adalah 130.300 Ha/ tahun. Deforestasi di hutan lindung memicu terjadinya bencana alam, karena fungsi hutan lindung terkait dengan pengaturan tata air, pencegahan banjir, pengendalian erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah. Angka deforestasi di atas mengindikasikan bahwa kebijakan tersebut belum efektif. Ketidakefektifan suatu kebijakan terkait dua hal yaitu isi kebijakan dan implementasinya (Sutton, 1999). Isi kebijakan terkait dengan masalah bagaimana kebijakan tersebut dibuat dan apakah berdasarkan azas perundangudangan yang baik. Implementasi kebijakan terkait dengan bagaimana kebijakan tersebut dioperasionalkan. Implementasi desentralisasi pengelolaan hutan lindung belum berjalan sesuai dengan harapan. Salah satu penyebabnya adalah Pemerintah Kabupaten kurang merasakan manfaat langsung hutan lindung yang ada di daerahnya, sehingga desentralisasi pengelolaan hutan lindung tidak
menjadi insentif bagi Pemerintah Kabupaten untuk menjalankan kewenangannya. Pemerintah Kabupaten lebih menghargai manfaat langsung dari hutan, daripada mengapresiasi manfaat tidak langsungnya. Keterbatasan pemanfaatan hutan pada hutan lindung, menjadi alasan Pemerintah Kabupaten untuk mengusulkan perubahan fungsi hutan lindung menjadi fungsi produksi atau peruntukan yang lain. Kondisi ini perlu diantisipasi dengan mengadakan analisis lebih dalam tentang kebijakan pemanfaatan hutan lindung di era desentralisasi. Berdasarkan perundangan yang ada pemanfaatan hutan lindung dapat berupa kegiatan untuk memanfaatkan kawasan hutan, memanfaatkan jasa lingkungan serta memungut hasil hutan bukan kayu. Pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan lindung dilakukan melalui kegiatan: pemanfaatan jasa aliran air, pemanfaatan air, wisata alam, perlindungan keanekaragaman hayati serta penyerapan dan/atau penyimpanan karbon. Terkait dengan pemanfaatan hutan lindung di era desentralisasi, ada dua pertanyaan yang ingin dijawab yaitu : 1) Apakah peraturan yang terkait dengan pemanfaatan hutan lindung sudah sesuai dengan asas perundang-undangan yang baik; 2) Bagaimana implementasi kebijakan pemanfaatan hutan lindung

Researcher :
Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si
Mega Lugina S.Hut., M.For.Sc.
Kuncoro Ariawan S.Hut
Dr. Ir Hariyatno Dwi Prabowo M.Sc

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2011
Download (hits : 43x)
100 Nested Approach Sebuah Pilihan Pendekatan Penerapan REDD+ di Indonesia

Abstract :

Pendekatan bertingkat muncul pada saat banyak negara yang ingin menggabungkan antara pendekatan nasional dan pendekatan subnasional. Melalui pendekatan ini maka pelaksanaan kegiatan REDD+ dapat dilakukan baik di tingkat nasional dan subnasional secara bersamaan. Akan tetapi, pihak yang melaksanakan REDD+ di tingkat subnasional ini mempunyai kewajiban untuk men-scaleup ke tingkat nasional apabila tingkat tata kelola dan kapasitasnya sudah mencukupi.
Penerapan di tingkat nasional dapat diartikan dengan penerapan kebijakankebijakan nasional untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan secara nasional. Kebijakan-kebijakan tersebut sering disebut sebagai penciptaan kondisi pemungkin atau enabling condition. Semua kerangka kebijakan nasional tersebut sebenarnya mempunyai tujuan yang sama yaitu menekan laju deforestasi. Oleh karena itu, identifikasi penyebab deforestasi dan degradasi hutan menjadi sangat penting bagi pelaksana kegiatan REDD+ baik di tingkat nasional maupun penyesuaian dengan karakteristik setempat di tingkat subnasional

Researcher :

Pungky Widiaryanto


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2011
Download (hits : 33x)
101 CUKUPKAH Rehabilitasi Hutan dan Lahan Nasional SEBAGAI JAWABAN UNTUK KOMITMEN PENURUNAN EMISI GRK KEHUTANAN?

Abstract :

Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca telah dikeluarkan, tekad Pemerintah Indonesia untuk penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 26% dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan internasional pada tahun 2020 dari kondisi tanpa adanya rencana aksi (bussines as usual/BAU) telah dijabarkan secara terinci.
Terkait dengan target tersebut, penurunan emisi dan peningkatan karbon stok dari sektor kehutanan mendapatkan porsi yang terbesar, yaitu hampir 88 persen, disusul limbah dan energy serta transportasi, masing-masing 6 dan 5 persen. Sedangkan pertanian dan industri masing-masing 1 persen dan kurang dari 1 persen. Implikasinya adalah, beban sektor kehutanan dalam penurunan emisi GRK nasional adalah yang terberat. Hal ini menunjukkan tingginya harapan sekaligus tantangan kepada Kementrian Kehutanan sebagai salah satu sektor berbasis lahan.
Sebagaimana disebutkan dalam sasaran strategis dan dijabarkan dalam Permenhut No. 10 tahun 2011 tentang Enam Kebijakan Prioritas Bidang Kehutanan Program Pembangunan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu II rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) merupakan salah satu kebijakan prioritas. RHL ini terdiri dari Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL), Aksi Penanaman Serentak Indonesia (APSI), One Man One Tree (OMOT), One Billion Indonesia Trees (OBIT) dan Hutan Kemasyarakatan (Hkm).

Researcher :
Dr Kirsfianti L Ginoga M.Sc
Virni Budi Arifanti S.Hut., M.Sc. PhD
Dr. Raden Deden Djaenudin S.Si., M.Si.
Mega Lugina S.Hut., M.For.Sc.

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2011
Download (hits : 66x)
102 Strategi Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Kehutanan

Abstract :

Sektor kehutanan masih merupakan pengemisi gas rumah kaca atau GRK (net emitter) yang umumnya berasal dari deforestasi dan degradasi serta kebakaran hutan. Sektor ini juga mempunyai potensi besar untuk menyerap karbon (removal) melalui penanaman pohon dan pertumbuhan hutan. Berbagai kegiatan penanaman telah dilakukan di Indonesia jauh sebelum isu peran hutan dalam mitigasi perubahan iklim berkembang. Besarnya emisi salah satunya dapat mengacu pada hasil perhitungan Second National Communication, SNC (KLH, 2009), yang menyatakan tingkat emisi tahun 2000 sebesar 1.377.754 juta ton CO2-e, secara keseluruhan dan 649.254 juta ton CO2-e untuk sektor LULUCF (Land Use, Land Use Change and Forestry). Besarnya emisi tersebut terutama berasal dari besarnya deforestasi. Beberapa faktor pemicu deforestasi dan degradasi yaitu penebangan liar; kebakaran hutan; dan konversi lahan hutan untuk kegiatan-kegiatan lain yang menghasilkan penutupan lahan dengan cadangan karbon yang lebih rendah seperti untuk perkebunan dan pertanian, pemekaran wilayah (kabupaten), pertambangan dan pemukiman. Kuantifikasi upaya menurunkan tingkat emisi perlu didasarkan pada pengurangan
source atau sumber emisi dari sektor kehutanan dan kegiatan peningkatan karbon stok atau sink seperti reforestasi, penanaman, penghijauan, dan lainya. Hal ini perlu diiringi dengan kebijakan yang mendukung, terkait penggunaan lahan dan insentif untuk parapihak yang berhasil mendukung upaya tersebut. Target pemerintah untuk menurunkan tingkat emisi 26% atau 14% untuk sektor kehutanan sampai tahun 2020 perlu kebijakan dan tindakan nyata di lapangan. Strategi penurunan tingkat emisi perlu didasarkan pada upaya-upaya pengurangan sumber-sumber emisi dari sektor kehutanan. Kajian ini bertujuan untuk menghasilkan strategi penurunan emisi melalui pemahaman terhadap sumber emisi (deforestasi dan degradasi) dan sumber serapan (pertumbuhan hutan dan penanaman seperti HutanTanaman Industri (HTI), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Rakyat (HR), Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN RHL), serta kegiatan lainnya. Implikasi kebijakan untuk mendukung hasil ini diharapkan dapat memberikan masukan atau input kebijakan agar tingkat emisi sektor kehutanan tahun 2020 dapat diturunkan, dan agar sektor kehutanan dapat berkontribusi terhadap penurunan emisi global.

Researcher :
Ir Ari Wibowo M.Sc

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2011
Download (hits : 42x)
103 GOOD CORPORATE GOVERNANCE Di Bidang Kehutanan, Siapkah Kita ?

Abstract :

Tujuan Good Corporate Governance (GCG) pada intinya adalah menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak tersebut adalah pihak internal perusahaan meliputi dewan komisaris, direksi, karyawan, dan pihak eksternal meliputi investor, kreditur, pemerintah, masyarakat dan pihak–pihak lain yang berkepentingan (stakeholders). Indonesia, semenjak tahun 2000 telah melakukan upaya-upaya menumbuhkan kesadaran pentingnya GCG dan penerapannya. Upaya-upaya tersebut
diantaranya dengan pembentukan Komisi Nasional GCG oleh Kantor Menko Perekonomian dan disusunnya National Code of Good Corporate Governance atau Pedoman Nasional GCG. Disamping itu berbagai peraturan yang telah diterbitkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), serta keputusan-keputusan Menteri Negara BUMN juga telah turut mendorong pelaksanaan GCG oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia, baik itu perusahaan publik maupun BUMN (Juanda 2009).

Researcher :
Dr. Ir Hariyatno Dwi Prabowo M.Sc

Eno Suwarno dan Prof. Hariadi Kartodihardjo


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2011
Download (hits : 34x)
104 Tinjau Ulang Kewajiban Penggunaan Surat Keterangan Asal Usul (SKAU) Kayu Rakyat di Jawa

Abstract :

Surat Keterangan Asal Usul (SKAU) kayu merupakan dokumen yang menyatakan sahnya pengangkutan, penguasaan atau kepemilikan hasil hutan kayu yang berasal dari hutan hak atau lahan masyarakat. Surat Keterangan Asal Usul kayu diberlakukan melalui Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor P.51/2006 sebagai bentuk penyederhanaan dari protokol peredaran kayu rakyat yang sebelumnya diatur dengan ketentuan Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH). Berdasarkan konsideran peraturannya, penyederhanaan tersebut dilakukan dalam rangka upaya meningkatkan kesejahteraan, daya saing usaha serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat, khususnya mereka yang melakukan usaha tanaman kayu rakyat. Aturan SKAU tersebut telah mengalami beberapa perubahan, yaitu melalui Permenhut nomor P.62/2006 dan P.33/2007

Researcher :

Sulistyo A. Siran dan Dede Rohadi


Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2011
Download (hits : 51x)
105 Kebijakan Ekspor Kayu Bulat Hutan Tanaman: Mendistribusikan Manfaat Sumberdaya Hutan Secara Berkeadilan

Abstract :

Mendasarkan pada kenyataan bahwa kebijakan ekspor kayu bulat diberlakukan di negara lain seperti di Malaysia dan Amerika Serikat, yang memberikan manfaat yang lebih baik bagi kedua negara tersebut dibanding kebijakan larangan ekspor, maka kebijakan yang sama apabila diberlakukan di Indonesia, seharusnya juga menghasilkan manfaat yang lebih baik. Suatu permasalahan yang selalu diperdebatkan adalah apakah dan bagaimanakah industri pengolahan kayu siap menghadapi persaingan di pasar global jika kebijakan ekspor kayu bulat diberlakukan? Selama kekhawatiran Indonesia adalah karena masuknya kayu bulat ke pasar luar negeri dengan berbagai dampaknya, pertanyaannya kemudian adalah mengapa Malaysia dan/atau Amerika Serikat mengabaikan kekhawatiran tersebut? Mengunakan teori biaya produksi dan teori kesejahteraan, apakah kebijakan ekspor kayu bulat hutan tanaman layak diberlakukan dan bagaimana dampaknya pada perolehan laba pengusaha hutan dan industri serta kesejahteraan pelaku ekonomi yang terlibat dikaji sebagai bahan evaluasi kebijakan.

Researcher :
Dr. Ir. Satria Astana M.Sc
Nunung Parlinah S.Hut, M.Si
- OK Karyono -
Raden Mohamad Mulyadin S.P., M.Si

Publisher : puspijak
Type : Policy Brief
Year : 2010
Download (hits : 45x)