Search
Profile
Collection
Collaborative Research
PUI
Judul Penelitian

Kebijakan Land Swap: Tinjauan Teoritis dan Pengalaman Di Lapangan

Ketua: Dr. Ir Sulistya Ekawati M.Si
Analisis
Identitas Penelitian

Abstrak Penelitian

Menurut catatan Direktur Inventarisasi Sumber Daya Hutan (2013), luas hutan di Indonesia adalah 131,3 juta hektar, sekitar 52,2% merupakan areal berhutan dan 47,5% lainnya adalah kawasan yang tidak berhutan. Sementara luas lahan Areal Penggunaan Lain (APL) telah mencapai 56,56 juta hektar dengan area sebesar 15,2% diantaranya masih berhutan. Data tersebut memperlihatkan  ada kawasan hutan yang tidak lagi berhutan dan sebaliknya terdapat lahan APL yang masih berhutan, sehingga muncul pemikiran untuk melakukan land swap (tukar menukar lahan). Pembelajaran dari kasus pelepasan kawasan hutan, sejak tahun 1986 hingga 2012 kawasan hutan yang telah dilepas menjadi kawasan bukan hutan atau areal penggunaan lain (APL) seluas 5.775.400 ha.  Dari luasan tersebut, sebanyak 99% diperuntukkan bagi perkebunan, tetapi fakta yang ada sebagian besar ijin perkebunan tersebut hanya berorientasi pada IPK saja. Setelah SK pelepasan kawasan hutan diterbitkan, Kemenhut tidak lagi mempunyai kewenangan di APL. Pembelajaran kasus tukar menukar kawasan hutan menunjukkan hanya sedikit pemohon yang memenuhi kewajibannya untuk menyelesaikan ijin pelepasan dan penyediakan lahan pengganti, pada kasus pinjam pakai, banyak kasus yang tidak mengembalikan kawasan hutan yang dipinjam, walaupun masa berlakunya pinjam pakai habis. Di sisi lain, banyak kawasan hutan yang ditelantarkan oleh pemegang ijin. Konsep land swap yang saat ini berkembang perlu dikritisi, mengingat permasalahan kawasan hutan bukan semata-mata permasalahan kehutanan (forestry centris). Konsep land swap seharusnya dipandang sebagai sebuah mekanisme restrukturisasi kawasan hutan agar lebih optimal mengingat beberapa provinsi terdapat APL berhutan, sementara kawasan hutan sebagian kondisinya rusak. Filosofi land swap sebaiknya bukan semata-mata untuk konservasi hutan (meningkatan cadangan karbon hutan), tetapi juga mempertimbangkan fungsi sosial ekonomi dan ekologi hutan.

Gambar Penelitian
Publikasi Penelitian
Jurnal

Conference