Search
Profile
Collection
Collaborative Research
PUI
Judul Penelitian

Kajian Tumpang Tindih di Kawasan Tesso Nillo

Ketua: Dr. Ir. Satria Astana M.Sc
Analisis
Identitas Penelitian
Anggota Penelitian
Lama: 12 bulan, Tahun: 2013
Dana: Rp.0,00
Lokasi :

Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Provinsi Riau


Abstrak Penelitian

Perspektif valuasi ekonomis oportunitas kawasan hutan melalui pembandingan antara pengembangan komoditas kehutanan dan "di luar" kehutanan yang negatif sepertinya menjadi rahim lahirnya pilihan rasional bagi para pelaku usaha untuk terus "memburu" kawasan hutan untuk pengembangan komoditas "di luar kehutanan". Usaha perburuan tersebut tentunya bekerja pada ruang yang bernuansa kolutif karena usaha-usaha tersebut secara hukum yang berlaku tidak sah. Fenomena tersebut saat ini terus tumbuh subur di ranah yang berstruktur partikular dimana penegakan hukum menjadi suatu instrumen yang sedang malfungsi yang harus diperbaiki. Kawasan seluas 83.068 ha yang dikelola melalui kaidah konservasi "modern" Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang secara hukum ditetapkan melalui  dua SK Menteri Kehutanan (SK Menteri Kehutanan Nomor SK.255/Menhut-II/2004 seluas 38.576 ha dan  SK Menteri Kehutanan Nomor SK.663/Menhut-II/2009 untuk penambahan luas kawasan 44.492 ha) juga menjadi salah satu arena fenomena tersebut diatas. Menurut pantauan World Wild Fund (WWF) (2013) hingga 2012, 52.266,5 ha di hutan Tesso Nilo telah beralih menjadi kebun sawit, 15.714 ha diantaranya terjadi TNTN. Tumpang tindih kepentingan di kawaasn Tesso Nilo, khususnya di kawasan  TN Tesso Nilo yang termanifestasi sebagai aksi kolektif masyarakat mengelola tanaman komoditi perkebunan sebenarnya merupakan resultan dari masalah yang sangat kompleks yang melibatkan banyak aktor, skneario dan kepentingan. Kawasan Tesso Nilo tidak terelakkan menjadi arena kontestasi legitimasi. Jika permasalahan TN Tesso Nilo di dekati dengan diskursus kebijakan normatif kemudian diikuti dengan penegakan kebijakan tersebut secara menyeluruh, maka kemudian tidak lagi diperlukan pembahasan permasalahan di TN Tesso Nilo. Kenyataan yang ada di TN Tesso Nilo adalah bahwa negara saat ini dalam posisi lemah dan tidak populer, pemerintah tidak mampu menegakkan kebijakan yang telah dibuatnya sendiri sehingga kemudian muncul kekuatan-kekuatan civil society dan aksi-aksi kolektifnya yang memang dapat dianggap sebagai tindakan yang menantang legitimasi negara atas kawasan Tesso Nilo. Civil society mempunyai legitimasinya sendiri yang sebenarnya sebagian besar berasal dari watak dan perilaku negara dalam pengelolaan sumberdaya di ranah praktis salah satunya yaitu dengan banyak terabaikannya kawasan hutan. Hasil kajian menunjukkan Penyebab langsung terjadinya tumpang tindih kepentingan di TN Tesso Nilo adalah : a) secara historis, kurangnya perlindungan hutan oleh pemegang izin pemanfaatan kawasan hutan (HPHTI PT Inhutani IV dan PT Nanjak Makmur) sebelum kawasan ditunjuk menjadi TNTN, b) adanya Koridor HTI PT RAPP di tengah kawasan Tesso Nilo yang dibuat tahun 2001 (koridor Baserah) dan koridor sektor Ukui-Gondai sebelah utara kawasan Tesso Nilo yang dibuat oleh RAPP tahun 2004, c) kebijakan pemerintah daerah dan lokal yang membuka peluang terjadinya penggarapan tanpa ijin di dalam kawasan (Penerbitan SKGR oleh kades, SKT oleh kades/camat, SIML oleh tokoh adat) , dan tokoh adat yang memperjualbelikan  lahan kepada pihak luar (privatisasi aset adat). Sedangkan penyebab tidak langsung tumpang tindih di kawasan TN Tesso Nilo adalah : a) kerjasama yang kolutif oknum pemerintah, masyarakat dan pemilik modal, b) eksodus penduduk mencari lokasi berkebun dan pemukiman  dan perubahan sosial masyarakat khususnya para tokoh adat karena adanya pemegang konsesi dan para pemodal,

Gambar Penelitian
Publikasi Penelitian
Jurnal

Conference